Tampilkan postingan dengan label tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tulisan. Tampilkan semua postingan

Maaf

Maaf. Sebuah kata yang sederhana, hanya terdiri dari empat huruf. Namun makna yang ada dibaliknya jauh dari sederhana. Sebuah kata yang melibatkan emosi dan ketulusan. Begitulah seharusnya. Sebab jika hanya sekedar diucapkan, tidak disertai dengan emosi dan ketulusan, maka nilainya tidak lebih dari sekedar energi yang digunakan untuk mengucapkan atau menuliskannya.

Maaf bisa menciptakan senyum, tangis bahagia, dan kelapangan hati. Maaf bisa menyambung silaturahmi yang terputus, menghapus rasa benci, dan membuat hidup menjadi lebih indah dan menyenangkan. Maka minta maaflah pada orang-orang yang pernah kita sakiti, sengaja atau tidak. Jangan lupa, terimalah permintaan maaf dari orang yang pernah berbuat salah, yang pernah menyakiti kita.

Apakah bermaaf-maafan hanya dilakukan pada saat Lebaran? Tentu saja tidak. Idealnya, proses meminta maaf dan memaafkan ini dilakukan ssetiap ada kesempatan. Bukankah manusia adalah lahan yang subur untuk berbuat kesalahan? Pasti ada saja kesalahan yang kita lakukan dalam berkata, bertindak, dan bersikap. Mungkin saja kita tidak merasa melakukan kesalahan, tetapi siapa tahu apa yang kita lakukan atau yang kita ucapkan telah menyakiti perasaan orang lain tanpa kita sadari.

Jangan menunggu Hari Raya Idul Fitri untuk meminta maaf. Lakukan itu sesegera mungkin, selagi kita bisa. Idul Fitri adalah momentum tahunan untuk menyadarkan kita betapa mudahnya berbuat kesalahan dan betapa sulitnya menggerakkan hati untuk meminta maaf. Berjanjilah pada diri sendiri untuk membiaakan diri meminta maaf, dan juga sekaligus memaafkan orang lain, diminta ataupun tidak diminta.

Dan tentu sangat beralasan jikapada kesempatan ini saya juga meminta maaf kepada Anda dan siapa pun yang membaca tulisan ini. Siapa tahu ada kata-kata saya yang membuat Anda merasa tidak nyaman atau merasa tersakiti. Percayalah, saya tidak pernah bermaksud menyinggung atau menyakiti siapa pun. Semoga hari-hari mendatang menjadi lebih indah dan menyenangkan.

Selamat Hari Raya Idul Fitri.
Baca selengkapnya...


Web Player Super Praktis

Player untuk memutar musik atau video di blog banyak dibutuhkan, baik untuk sekedar hiburan, atau untuk keperluan seperti tutorial dll. Sayangnya urusan memasang player semacam ini seringkali ribet. Ada yang harus daftar dulu lah, ada yang settingnya rumit lah, malah ada yang harus bayar segala.

Jika Anda tidak suka dengan yang ribet-ribet, mau yang praktis, saya punya caranya: pakai Yahoo Web Player. Saya yang pada dasarnya tak begitu suka dengan produk-produk Yahoo, kali ini berubah pikiran. Player-nya ringan (beda dengan produk-produk Yahoo lainnya), instalasinya mudah, dan gratis.

Tampilan Yahoo Web Player saat memainkan file video.
Begitu Anda pasang player ini di blog Anda, semua link audio dan video bisa langsung diputar tanpa harus melakukan setting apa pun. Syaratnya tentu saja link tersebut harus hot-link alias direct-link. Misalnya: http://nama-web/judul-lagu.mp3 dan bukannya http://nama-web/judul-lagu.html. Video di youtube adalah contoh video yang termasuk direct-link.

Jika Anda tertarik untuk memasang web-player ini di blog/website Anda, silakan ikuti petunjuk berikut ini:
  • Masuk ke menu edit HTML, cari kode </body>
  • Copy script berikut ini dan simpan di atasnya:
<script type="text/javascript"> var YWPParams = { theme: "silver" }; </script>
<script type="text/javascript" src="http://webplayer.yahooapis.com/player.js"></script>
  • Klik save, selesai. Player super praktis ini sudah terpasang di blog/website Anda.
Dengan terpasangnya web-player ini, maka setiap direct-link audio atau video di bagian mana pun di blog/website Anda, akan otomatis bisa diputar.

Untuk mencobanya, silakan tekan tombol play di depan link berikut ini:
Tata Danamihardja - Hentikan (Aku Bosan)

Gampang kan? Lalu bagaimana cara mencari direct-link lagu-lagu gratis berformat MP3? Nanti kita bahas kalau ada waktu dan saya bisa menulisnya. Soalnya saya bukan penulis tutorial yang baik :)

Untuk sementara itu dulu yaaa...
Baca selengkapnya...


5 Kiat Jitu Mendulang Jempol

Anda main Facebook? Maniak jempol? Thumb-chaser? Ini tips ajaib mendulang jempol secara instan dan dalam waktu singkat. Simak baik-baik.
    foto: sficoils.com
  1. Apa pun jenis kelamin Anda, pasang foto perempuan cantik. Pose menantang akan lebih baik. Secara naluriah, foto perempuan lebih catchy dibanding foto pria.
  2. Sering-seringlah update status, apa saja. Bahkan sekedar satu tanda baca sekalipun (titik, koma, tanda tanya, tanda seru), akan mengundang banyak orang untuk meng-klik tombol like.
  3. Jika Anda mau sedikit meluangkan waktu, buatlah satu frasa. Apa saja. Sampah juga tak masalah. Apalagi jika Anda punya sedikit imajinasi, gunakan frasa sampah yang agak mengundang, misalnya: lagi pengen.. Dijamin, ini akan mengundang komentar bejibun, selain jempol.
  4. Rajin-rajinlah bertandang ke facebook tetangga. Ingat, tujuan Anda hanya satu, mencari tombol like. Begitu ketemu, pencet semua tombol bergambar jempol yang ada dengan penuh nafsu, jangan ada yang tersisa. Tak perlu baca apa pun. Percayalah, mereka akan merasa berutang budi dan membalas Anda dengan perlakuan yang sama.
  5. Kalau mau yang agak susah, buatlah tulisan yang berbunga-bunga, penuh dengan hamburan kata-kata nggak keruan, seperti puitis (padahal enggak). Anda pusing sendiri? Tenang saja, Anda tak perlu mengerti apa yang Anda tulis. Orang-orang dengan kapasitas intelektual di bawah Anda pasti rela menjadi pemuja fanatik Anda.
Anda menganggap saya sinis? Ah, terserah Anda. Saya cuma mengamati fakta yang tertangkap mata saya, dan kebetulan saya lagi ngaco... Don't be too serious! Hidup terlalu indah untuk diisi dengan kemarahan dan kejengkelan. Just take it easy :)
Baca selengkapnya...


Kehilangan Pilihan

foto: poskota.co.id
Hingar bingar perayaan tahun baru Masehi baru saja usai. Segala tetek bengek keriaan larut dalam kelelahan yang terbagi rata antara yang merayakan dan tidak merayakan. Kelelahan fisik bagi yang merayakan dan kelelahan mental bagi yang tidak merayakan. Semua, langsung atau tidak, dipaksa untuk terlibat dalam tradisi lokal yang mengglobal akibat peran media dan industri.

Sepuluh tahun yang lalu, saya masih bisa membedakan suasana kampung dan kota besar menjelang tanggal 1 Januari. Di kota-kota besar orang-orang terkonsentrasi di tempat-tempat tertentu dengan segala keriuhrendahannya untuk merayakan malam pergantian tahun. Kebisingan suara terompet dan deru kendaraan, gemerlap kembang api, panggung-panggung hiburan, menjadi rutinitas selebrasi tahunan. Sementara di kampung-kampung, orang masih bisa bernafas lega menikmati kedamaian, jauh dari hiruk pikuk dan kebisingan.

Namun perbedaan itu tak lagi nampak saat ini. Kampung tak lagi steril dari suara-suara terompet dan deru kendaraan di malam tahun baru. Difahami atau tidak, perayaan tahun baru Masehi menjadi mainan baru atau bahkan berhala baru yang perlahan tapi pasti menginvasi hingga ke pelosok perkampungan. Kita tak lagi punya pilihan untuk sekedar menikmati kesunyian sambil melakukan kontemplasi alakadarnya sekali pun.

Barangkali, prosesi tahunan ini diam-diam sudah menjadi semacam katarsis terhadap beban hidup masyarakat kebanyakan. Larut dalam euforia hingar bingar perayaan tahun baru Masehi mungkin menjadi semacam penghilang rasa sakit untuk beberapa saat. Lupakan sejenak kemiskinan, ketidakadilan, korupsi yang merajalela, kebobrokan moral, dan lain-lain. Selebrasi tahun baru menjadi semacam onani kolektif yang menjanjikan kegembiraan semu, meski sesaat. Setelah itu, bersiap-siap untuk kembali ke dunia nyata yang keras dan getir.

Yang jelas, saya, dan mungkin juga Anda, telah kehilangan pilihan untuk menikmati malam pergantian tahun dengan cara kita. Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un.
Baca selengkapnya...


Introspeksi Berjamaah

Menelisik ke dalam diri sendiri memang gampang diucapkan, tetapi sangat susah untuk dilakukan. Apalagi jika sudah berkaitan dengan kealpaan atau kesalahan yang kita lakukan. Ada semacam kecenderungan berupa dorongan untuk menutupi kesalahan kita dengan berbagai argumen yang kita ciptakan secara fantastis sebagai pembelaan terhadap apa yang sudah kita lakukan.

Lain halnya jika yang ditelisik adalah kesalahan orang lain. Semuanya menjadi begitu gamblang dan jelas, seolah-olah kita melihat segala sesuatunya dengan menggunakan lensa mikroskopis. Bahkan tak pernah ada dorongan untuk mencoba mencari pembelaan terhadap kesalahan orang lain. Kita merasa tidak perlu melihat persoalan dari sudut pandang yang lain.

Namun ketika orang lain berusaha mengungkapkan kesalahan kita, maka yang muncul adalah sikap reaktif dan defensif. kalau kita saja sudah tidak mau menelisik kesalahan diri sendiri, apalagi jika hal itu dilakukan oleh orang lain. Reaksi kita cuma satu: lawan!

Di tingkat individu, hal seperti itu masih bisa dianggap wajar, karena biar bagaimana pun reaksi pertama ketika mendapat 'serangan' adalah berusaha mempertahankan diri. Namun tidak berarti bahwa sikap tersebut selalu benar, karena pada kenyataannya tuduhan, serangan, atau apapun namanya, tentu dipicu oleh sesuatu yang di mata orang lain merupakan kesalahan yang perlu diluruskan. Dan jika kita mau belajar, maka seharusnya hal itu dijadikan alat untuk memperbaiki diri. Bersyukurlah bahwa kesulitan kita untuk melihat kesalahan diri sendiri sudah dibantu oleh orang yang mau menunjukkan kesalahan kita.

Celakanya, ketika kesalahan yang kita lakukan itu menyangkut kepentingan orang banyak, dorongan untuk bersikap defensif justru menjadi lebih besar. Ini terjadi karena pihak yang harus kita yakinkan bahwa kita tidak bersalah bukan lagi satu orang, melainkan banyak orang. Bisa ratusan, bisa ribuan, bisa ratusan ribu, bisa jutaan, bahkan bisa ratusan juta jika itu sudah menyangkut sebuah kebijakan negara.

***

Otonomi daerah yang diberlakukan saat ini diharapkan bisa memperbaiki kondisi yang dulu banyak dikecam gara-gara terkesan sentralistis. Maka muncullah ide otonomi daerah sebagai implementasi dari sistem desentralisasi yang diyakini (pada saat dibuat) akan menciptakan pemerataan di daerah. Namun setelah perjalanan sekian lama, ternyata otonomi daerah malah memunculkan raja-raja kecil yang haus kekuasaan. Dengan bertopengkan membela kepentingan lokal, semakin maraklah keinginan untuk memisahkan diri dalam skala domestik. Bermunculannya propinsi, kabupaten, kecamatan, bahkan desa-desa baru yang memisahkan diri dari induknya menjadi bukti kecenderungan tersebut.

Benarkah setelah memisahkan diri masyarakat setempat menjadi lebih makmur? Sayangnya tidak! Yang justru terjadi adalah pemerataan korupsi, gara-gara semakin besarnya kesempatan untuk melakukan hal itu. Yang tak kalah mengerikannya adalah pembengkakan biaya pemilihan kepala daerah. Untuk pemilihan gubernur saja, pasangan calon bisa menghabiskan biaya trilyunan rupiah! Belum lagi biaya pemilihan bupati/walikota. Itu di luar biaya pemilihan umum yang biayanya tentu lebih besar lagi.

Yang membuat saya sedih, hingga saat ini rasanya belum ada tokoh yang mengritik soal otonomi daerah dan sistem pemilihan (nasional maupun daerah) yang ternyata memakan biaya yang luar biasa besar, dibanding sistem sebelumnya. Entah apakah ini karena mereka memang menikmati lahan korupsi yang semakin subur, atau mungkin karena menganggap semua yang berbau 'masa lalu' adalah semacam najis yang harus dihindari. Padahal kalau kita lihat, tidak semua kebijakan masa lalu itu buruk.

Yang paling gampang, ya soal pemilihan itu tadi. Biaya yang dikeluarkan amat sangat jauh lebih murah dibandingkan sistem yang sekarang. Kecenderungan memunculkan konflik horisontal juga lebih kecil. Lihat misalnya pilkada di Jawa Timur. Entah berapa biaya penyelenggaraan yang harus dikeluarkan pemda, karena selain pilkada dilakukan beberapa purtaran, juga ada pilkada yang harus diulang di beberapa kawasan. Belum lagi biaya yang dikeluarkan para pasangan calon gubernur. Padahal yang membiayai semua itu adalah rakyat yang taraf kehidupannya banyak yang masih berada di bawah garis kemiskinan. Kalau saja biaya pilkada tidak harus sebesar itu, mungkin sisanya bisa dipergunakan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. itu pun kalau tidak dikorup!

Rasanya memang kita harus mulai berani melakukan introspeksi. Berani mengakui kesalahan sendiri dan berani berubah. Dua hal yang luar biasa sulit dilakukan, tapi bukan berarti tidak mungkin dilakukan. Kalau misalnya otonomi daerah lebih banyak mudharatnya dibanding manfaatnya, kenapa kita tidak berani mengakui hal itu? Atau kalau misalnya pilkada itu terlalu menguras biaya, kenapa harus dipaksakan? Kuncinya adalah diawali dengan keberanian melakukan introspeksi dengan jujur, baik secara individu maupun berjamaah (kolektif) sebagai bangsa. Pertanyaan besarnya, maukah kita melakukannya?
Baca selengkapnya...


Protes Buat Ayu Ting Ting

Ini bukan protes soal penampilan. Bukan pula soal foto syur atau video mesum seperti yang sering terjadi pada selebritas. Ini cuma protes kecil soal lirik lagu Ayu Ting Ting yang belakangan ini sangat laris manis di pasaran: Alamat Palsu.

Uniknya yang protes bukan saya lho, melainkan keponakan saya yang usianya baru 3 tahun. Memangnya kenapa dengan lirik lagu itu? Jujur saja, sebelumnya saya sama sekali nggak tahu liriknya seperti apa. Setelah keponakan saya protes, baru saya tahu, dan sekaligus terkejut dengan sikap kritis dan kejelian si kecil :)

Di salah satu bagian lirik lagu tersebut ada kata-kata: Ke sana ke mari, membawa alamat... Ya kan? Nah pas denger bagian ini, keponakanku tiba-tiba nanya, "Kok ke sana ke mari membawa alamat sih? Kan alamat nggak bisa dibawa..."

Ditodong tiba-tiba seperti ini saya agak gelagapan berusaha menjelaskan, "Kan alamatnya ditulis di kertas, sayang... Jadi yang dibawa-bawa itu kertas berisi catatan alamatnya..."

"Oh, kertas ya? Tapi kata Teteh yang nyanyi itu kan katanya alamat, bukan kertas..." protesnya polos seperti nggak puas.

Waduh, pinter ni anak... Lagian masih kecil pake denger lagu Ayu Ting Ting segala :) Tadinya sih saya lempeng-lempeng saja mendengar lagu itu. Sekarang kok jadi kepikiran ya? Meski terlihat sepele, tapi logika berbahasa kadang-kadang diabaikan oleh para penulis lagu. Dan ini seringkali luput dari perhatian kita, orang dewasa.
Baca selengkapnya...


Blog Yang Bikin Pusing

Ngintip blog orang itu menyenangkan, sebab kita bisa belajar sekaligus membandingkan. Tapi, dengan catatan: blognya memang menyenangkan untuk dikunjungi. Soalnya ada juga blog yang malah membuat kita pusing dan diam-diam berjanji untuk tidak akan pernah lagi mengunjunginya. Nah lho!
foto: detik.com
Saya sendiri punya kriteria tertentu dalam menilai sebuah blog. Berikut ini beberapa hal yang bisa bikin saya kapok mengunjungi sebuah blog:
  • Warna-warna yang terlalu mencolok (shocking) dan nggak nyambung. Percayalah, mata orang itu punya daya tahan terbatas untuk menatap warna-warna semacam itu. Hindari juga efek berkedip-kedip pada tulisan (biasanya menggunakan javascript). Ini bikin mata cepat lelah.
  • Terlalu banyak aksesoris. Mata saya gampang sepet melihat terlalu banyak aksesoris, widget, dan pernak-pernik lain yang nggak perlu. Termasuk di dalamnya adalah lagu yang auto-play. Mending kalau pas lagunya sesuai selera. Kalau tidak? Pengunjung dipaksa untuk mencari-cari tombol stop. Cara paling gampang tentu menutup browser atau mencari blog lain yang lebih beradab. Blog seperti ini pasti jadi musuh saya :)
  • Pop-up message, flying message dan sejenisnya dijamin membuat saya kesal. Biasanya, begitu muncul yang semacam ini (biasanya berisi penawaran produk, newsletter, atau sekedar pamer script baru yang bisa nyalamin pengunjung), selera saya langsung hilang dan cara terbaik adalah cepat-cepat menutup halamannya.
Nah, jika Anda punya blog yang seperti ini, mending coba diberesin lagi deh. Sebagus apa pun konten blog Anda, jika tampilannya norak dan acak-acakan, orang jadi males untuk berlama-lama di blog Anda. Asal tahu saja, yang punya kriteria seperti saya ini dijamin banyak lho, dan itu berarti Anda akan kehilangan banyak pengunjung jika tetep maksa seperti itu.
Baca selengkapnya...


Selamat Jalan Kang Aom

Aom Kusman Kartanagara
Indonesia kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya. Aom Kusman Kartanagara, seniman pelawak, penyanyi serta presenter senior ini meninggal pukul 4.30 tadi subuh, di usia 65 tahun.

Di tahun 1970-an dan 1980-an, ia bergabung dalam De'Kabayan, bersama Kang Ibing, Ujang, Sofyan Hargono dan Suryana Fatah. Pria kelahiran Sukabumi 24 Juni 1946 ini juga pernah menjadi presenter salah satu program televisi Kuis Siapa Dia yang cukup populer.

Aom Kusman meninggalkan seorang istri, dua orang anak, serta lima orang cucu.

Selamat jalan Kang Aom, kepulanganmu tidak akan pernah menghapus jejak yang pernah kau torehkan untuk dunia seni negeri ini.

Lagu tema Kuis Siapa Dia (Payung Fantasi)
Baca selengkapnya...


Kasihan Ibu

Kasihan Ibu, kalau hanya diingat setahun sekali, pada Hari Ibu. Padahal doanya yang hebat untuk kita digumamkan dari mulutnya tanpa henti. Dalam setiap helaan nafasnya selalu terselip doa-doa untuk anaknya. Bahkan mungkin doa untuk dirinya sendiri sering terlupakan. Sebab baginya, anak-anak adalah harta terindah yang harus benar-benar dijaga. Ia rela tak makan asal anaknya bisa makan. Rela kurang tidur ketika anak-anaknya sakit. Rela tak beli baju asal anaknya bisa mendapat baju baru.

Kasihan Ibu, yang kerap dilupakan anaknya sendiri. Padahal tak pernah sedetik pun ia lupa pada anaknya. Khawatir kalau anaknya belum pulang. Cemas kalau anaknya sakit. Tak pernah lupa menyiapkan sarapan buat anak-anaknya. Selalu ingat kebiasaan-kebiasaan kecil anaknya, dan berulang-ulang diceritakannya lagi dengan bangga kepada setiap orang. Padahal kita sering malu dan kesal, lupa bahwa begitulah caranya menyayangi kita, mengingat kita.
foto: republika.co.id
Kasihan Ibu, yang lebih sering sendirian ketika kita beranjak remaja dan menemukan dunia kita sendiri. Sementara kita asyik ngerumpi dengan teman-teman, ibu harap-harap cemas menunggu telepon kita, takut kalau terjadi apa-apa dengan anaknya. Sementara anaknya nonton film rame-rame dengan teman-teman, ibu harus terbengong-bengong di depan televisi, sendirian menonton acara yang tak begitu disukainya, sambil menunggu anaknya tercinta pulang ke rumah.

Kasihan Ibu, ketika kita beranjak dewasa dan berkeluarga, ia harus menikmati kesunyian sendirian. Sementara anak yang dibanggakannya, terlalu sibuk dengan urusan keluarga barunya, sehingga tak sempat menengok bahkan meski cuma seminggu sekali. Padahal tak ada yang diharapkannya, selain sekedar merasa punya arti bagi anak-anaknya. Selain merasa tetap disayangi tetap bisa menyayangi anak-anaknya.

Kasihan kita, yang tak pernah bisa memahami apa keinginan Ibu. Padahal sederhana saja yang dinginkannya, tetap memiliki arti di mata anak-anaknya. Kita sering merasa terlalu pintar untuk mencoba memahami perasaan Ibu, padahal sesungguhnya terlalu bodoh untuk sekedar memahami diri sendiri. Kita bahkan sering tidak tahu betapa besar kasih sayang Ibu kepada kita. Kita baru menyadari itu ketika Ibu sudah pergi meninggalkan kita. Dan airmata tak pernah bisa menebus rasa sesal kita.

Maka, sayangi Ibu, pahami Ibu, muliakan Ibu, setiap hari. Senangkan hatinya, dengan apa yang kita punya, dengan apa yang kita bisa. Mulai sekarang. Tak perlu tunggu Hari Ibu berikutnya.
Baca selengkapnya...


Sensasi Menikmati Lagu

Sadar atau tidak, mendengarkan kembali sebuah lagu sama dengan menghadirkan suatu peristiwa yang berkaitan dengan lagu tersebut. Bahkan meski kita tidak mengetahui arti dari lagu yang kita dengarkan. Yang membedakannya adalah seberapa penting peristiwa yang terkait dengan lagu itu bagi kita. Semakin berkesan sebuah peristiwa, semakin kuat lagu itu mengembalikan ingatan kita pada masa peristiwa itu terjadi.

Salah satu peristiwa yang paling berkesan dalam kehidupan manusia adalah pada saat jatuh cinta. Ada energi dahsyat dalam diri kita yang membuat segala kejadian pada saat jatuh cinta menjadi menjadi jauh lebih indah. Bahkan suara penyanyi yang paling kita benci pun bisa terdengar sangat indah di saat kita sedang jatuh cinta.

Itu sebabnya orang yang pacaran selalu punya lagu kebangsaan sendiri. Meskipun semua lagu menjadi terdengar indah, tetap saja orang milih-milih untuk menentukan lagu kebangsaan. Lagu anak-anak, lagu wajib nasional, atau lagu death-metal rasanya bukan pilihan yang tepat. Lagu anak-anak terlalu polos untuk jadi lagu tema percintaan. Lagu wajib? Pasti terlalu gagah dan patriotik. Masa orang pacaran lagunya Maju Tak Gentar :)

Pilihannya tentu jatuh pada lagu-lagu yang romantis, baik lirik mau pun iramanya. Maka beruntunglah pelantun lagu-lagu romantis semacam Chrisye dengan lagu Malam Pertama misalnya, karena pasti lagu mereka sering terpilih untuk menjadi lagu kebangsaan para pasangan yang sedang kasmaran, bahkan terus dikenang hingga waktu yang sangat lama.

Bukan cuma itu. Lagu bahkan selalu secara tak sadar dikaitkan dengan suatu peristiwa berkesan di masa lalu. Mungkin dulu semasa SMA Anda pernah digampar cewek karena bersikap kurang ajar. Tepat pada saat itu sayup-sayup terdengar lagu Potong Bebek di radio penjual cireng di gerbang sekolah. Maka setiap mendengar lagu itu, pasti ada sensasi tersendiri yang Anda rasakan.

Bahkan kadang-kadang sebuah lagu malah menimbulkan dejavu. Anda seolah-olah pernah mengalami suatu peristiwa yang Anda sendiri tidak tahu di mana, atau entah kapan kejadiannya. Atau mungkin saja ketika mendengar sebuah lagu tertentu, Anda tiba-tiba saja merasakan sensasi kegembiraan yang aneh, tanpa mengetahui sebabnya. Tapi yang paling sering tentu saja mengaitkan sebuah lagu dengan peristiwa menyenangkan yang Anda alami.

Nah, sensasi apa yang Anda rasakan ketika mendengar lagu Mama Do You Remember (Joe Yamanaka) ini? Atau lagu Someone dari Grandfunk Railroad ini? Jika Anda tidak merasakan sensasi apa-apa berarti ada dua kemungkinan: saya lebih tua dari Anda, atau Anda lebih muda dari saya :)

Kalau begitu, apa dong lagu Anda hari ini?
Baca selengkapnya...


Anomali Wakil Rakyat

Backsound: Wakil Rakyat

Anomali menurut Wikipedia adalah penyimpangan atau keanehan yang terjadi atau dengan kata lain tidak seperti biasanya. Lalu ada apa dengan wakil rakyat? Di mana letak anomalinya?

Sebelum masuk ke anomali wakil rakyat, mari kita beranalogi dahulu biar saya kelihatan agak cerdas. Di mana-mana yang namanya wakil selalu lebih rendah dari yang diwakilinya. Patih di jaman kerajaan-kerajaan dulu, kekuasaannya lebih sedikit dibanding raja. Patih pasti tidak lebih kaya dan lebih sakti dari raja. Begitulah seharusnya agar tidak terjadi kekisruhan dan tumpang tindih wewenang serta tanggung jawab.

potret rakyat miskin yang terus bertambah
Di jaman modern hal yang sama terus berlangsung. Wakil, sehebat apa pun tidak boleh melebihi yang diwakilinya. Wakil adalah pihak yang tugasnya membantu tugas-tugas dan tanggung jawab pihak yang diwakilinya. Wakil presiden, wakil direktur, wakil walikota semua bekerja untuk membantu presiden, direktur, walikota, dst.

Yang menarik adalah wakil rakyat. Coba Anda lihat faktanya. Yang gampang saja: para wakil rakyat biasanya jauh lebih kaya dari rakyat kebanyakan yang diwakilinya. Lihat mobilnya, lihat rumahnya, lihat fasilitas yang diperolehnya. Serba mewah, serba hebat. Padahal rakyat yang konon diwakilinya masih banyak yang tidak punya rumah, tidak punya pekerjaan, bahkan untuk makan saja susah.

Bukankah ini anomali? Jelas ini sudah menyimpang dari kaidah yang semestinya. Cara kerjanya saja sudah salah. Seharusnya kan bikin makmur dulu rakyatnya, baru ia boleh memakmurkan diri. Ini sebaliknya: makmurkan dulu diri sendiri, rakyat sih kapan-kapan saja.. Apa nggak malu? Ah, jangan-jangan kata malu sudah dihapus dari kamus kehidupan mereka. Atau, urat malunya sudah pada putus!

Closing: Nasihat Pengemis Untuk Istri dan Doa Untuk Hari Esok Mereka
Baca selengkapnya...


Polisi Hebat Selain Hoegeng

Backsound: Umay - Pak Polisi

Ini bukan cerita polisi dalam film-film Amerika yang tak pernah kalah. Bukan! Bukan pula polisi yang punya beberapa rumah mewah atau kolektor mobil mewah. Ini hanya cerita tentang polisi miskin yang hingga pensiun pangkatnya tak sampai AKBP.

Lalu di mana hebatnya? Sabar, kawan. Kalau kehebatan diukur dari kekayaan, tingginya pangkat, kedudukan dan jabatan, karir dan sejenisnya, maka pak polisi yang saya ceritakan ini tidak ada apa-apanya. Bahkan kemungkinan besar masuk dalam kategori gagal!

Ilustrasi: pasarkreasi.com
Namanya pak Senyum. Atau paling tidak, begitulah saya menyebutnya. Nama aslinya saya sendiri tidak tahu. Disebut Pak Senyum karena memang begitulah kesehariannya, selalu tersenyum kepada siapa pun, kenal atau tidak. Saya mengenalnya ketika dia baru saja diangkat jadi polisi. Dan saya masih SD waktu itu.

Begitu saja. Tak ada yang menonjol darinya selain keramahannya. Jarang-jarang kan polisi ramah. Hanya beberapa bulan, dia dipindahkan entah ke mana. Selama belasan tahun tak ada kabar beritanya. Dan Pak Senyum yang cuma polisi biasa ini mulai dilupakan. Nah, lalu di mana hebatnya? Sebentar...

Kira-kira setahun yang lalu, saya melihatnya di sebuah pos polisi di perempatan kota tetangga. Sepintas, karena saya di kendaraan umum, tapi pasti tak salah lihat. Saya masih ingat sosoknya yang jangkung dan sedikit kurus. Dan masih seperti itu, lengkap dengan senyumnya. Saya melihatnya sedang menyapu pos jaga.

Yang mengherankan adalah, kok masih bertugas di lapangan? Polisi senior, masih menyapu juga? Saya tahu, teman-teman seangkatannya saat ini sudah banyak yang menjadi pejabat, minimal sudah lebih banyak bertugas di kantor. Terlibat kasus indisiplinerkah Pak Senyum sehingga nasibnya seperti itu? Ini benar-benar sebuah misteri.

Baru beberapa hari lalu misteri itu terjawab secara tak sengaja. Saya bertemu seorang polisi di tempat pengobatan alternatif. Obrolan basa-basi berkembang ketika iseng-iseng saya nanya soal Pak Senyum. "Oh, dia.." jawab pak polisi ini sambil menyebutkan nama asli Pak Senyum. "Ya, pasti dia, soalnya cuma dia satu-satunya polisi miskin di kota ini," imbuhnya lagi sambil tersenyum.

Dari obrolan itu saya jadi tahu bahwa Pak Senyum memang tak banyak berubah. Dan yang luar biasa, dialah satu-satunya (atau mungkin satu dari sangat sangat sangat sedikit) polisi yang membenci suap. Konon pernah satu kali Pak Senyum ditempatkan di bagian SIM. Sudah menjadi rahasia umum bahwa bagian SIM ini termasuk bagian yang paling basah. Tapi apa yang terjadi? Teman-temannya di bagian yang sama mengeluh karena mereka jadi kehilangan 'setoran' gara-gara Pak Senyum tak pernah mau menerima uang terimakasih atau apapun namanya. Biaya yang dibayar adalah biaya resmi tanpa pungutan lain apa pun.

Maka Pak Senyum pun dipindahkan lagi ke tempat lain. Dia benar-benar seorang polisi yang sederhana. Hidupnya hanya dibiayai oleh gaji yang diterimanya sesuai dengan pekerjaannya. Di luar itu, dia tak pernah mau menerimanya. Bahkan pernah suatu saat dia membongkar kejahatan korupsi atasannya sendiri. Nah sekarang Anda mulai bisa menilai kehebatannya kan? Kalau selama ini beredar pemeo yang mengatakan bahwa "hanya ada dua polisi yang baik yaitu Pak Hoegeng (mantan Kapolri) dan polisi tidur", maka sekarang berubah menjadi tiga!

Sayang polisi baik seperti ini bukannya mendapat penghargaan yang sesuai, bahkan di kepolisian sendiri, tempatnya mengabdi. Malah sebaliknya, kenaikan pangkatnya sering tersendat dan karirnya jalan di tempat. Bukannya dijadikan model standar polisi yang baik, malah justru disisihkan teman-temannya sendiri. Tapi apapun yang terjadi, Pak Senyum tetap berpegang teguh pada prinsip yang dianutnya, hingga pensiun, bahkan sampai sekarang. Tak ada piagam penghargaan, tak ada pujian dari atasan, dan tak ada imbalan materi yang didapatkan.

Berbuat baik dan lurus tanpa mengharapkan pujian dan imbalan. Sungguh, ini seperti sebuah oase di tengah krisis moral di kalangan pelayan rakyat. Sebuah oase sunyi dan jauh dari ingar bingar publikasi. Jangan takut Pak Senyum. Allah maha tahu, dan tunggu saja balasan yang jauh lebih hebat dari imbalan apa pun yang bisa diberikan manusia. Insya Allah.
Baca selengkapnya...


7 Perbuatan Sia-Sia

Backsound: Atiek CB - Akh!

Berikut ini adalah tujuh perbuatan sia-sia hasil perenungan saya di saat nggak punya duit dan persediaan kopi sudah habis:
  1. Mencintai guru TK Anda. Jelas ini perbuatan sia-sia, sebab ketika Anda menginjak dewasa, maka guru Anda ini tentu sudah uzur dan kalian rasanya tidak mungkin menikah.
  2. Bercita-cita menjadi Robinhood. Percuma saja. Merampok pake panah? Waduh, hari gini...
  3. Menegakkan benang basah. Yeee... pada belajar bahasa Indonesia kan? Sejak jamannya bapak moyang kakek buyutnya Jaka Sembung juga emang yang begituan disebutnya perbuatan sia-sia.
  4. Berharap pemerintah Indonesia membahagiakan warganya. Nggak mungkiiin... Itu kata Andrea Hirata lho, dan saya sangat setuju!
  5. Memberantas korupsi. Ah, dengernya aja males. Percayalah, koruptor itu dalam satu hal sama seperti pahlawan: gugur satu tumbuh seribu...
  6. Mengharapkan harga turun. Dalam sejarah, belum pernah terjadi harga yang sudah naik turun kembali.
  7. Mencoba membaca tulisan ini di tempat gelap sambil merem. Ini jelas-jelas membuktikan bahwa Anda mencintai kesia-siaan. Sudah saatnya Anda bertobat :)
Baca selengkapnya...


Beatles Melayu, Masih Laku?

Sebuah kredo yang diyakini banyak orang: mempertahankan popularitas jauh lebih sulit daripada meraihnya, memang sulit untuk dibantah. Tengok saja, berapa banyak kelompok musik atau penyanyi yang tiba-tiba melejit, lalu setelah itu hilang tak tentu rimbanya. Namun hal itu tidak berlaku untuk The Beatles. Dengan rentang karir yang cukup singkat, mereka ternyata mampu menobatkan diri mereka sebagai kelompok musik yang tetap dikenang hingga saat ini.

G-Pluck, salah satu Beatles' tribute bands yang muncul ke permukaan
Salah satu buktinya adalah terus bermunculannya kelompok-kelompok musik yang secara khusus membawakan lagu-lagu The Beatles. Istilah kerennya: Beatles' tribute band. Hebatnya, fenomena ini terjadi di mana-mana, di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, yang malah tidak pernah disambangi oleh kelompok musik The Beatles. Nama-nama semacam Bharata, Mat Bitel, Silver Beat bukanlah nama yang asing bagi pencinta The Beatles di tanah air. Mereka dianggap mampu mengobati kerinduan pencinta The Beatles dengan menghadirkan lagu-lagu The beatles secara 'live'.

Belakangan, muncul sebuah tribute band yang namanya cukup mencuat di kalangan pencinta The Beatles: G-Pluck. Meski rada susah, mereka berupaya maksimal meniru alias menjiplak The Beatles hingga ke soal tampilan di panggung. Lihatlah misalnya bagaimana Awan sang bassist sampai belajar khusus memainkan bass secara kidal, karena dia sendiri tidak kidal. Atau bagaimana mereka berupaya tampil dengan rambut poni dan jas ala The Beatles di masa awal karir mereka. Dan terlepas dari soal penampilan, G-Pluck mampu memainkan lagu-lagu kelompok legendaris asal Liverpool itu dengan cukup baik.

Tanggal 24 November 2009 lalu, kelompok G-Pluck membuktikan hal itu di Planet Hollywood Jakarta. Lagu-lagu rock n' roll mengalir di awal penampilan mereka, laiknya appetizer pemancing selera. Penonton pun larut dalam suasana tujuh puluhan, ikut bernyanyi lagu-lagu kesayangan mereka.

Break diisi oleh penampilan Maliq and D'essential. Tadinya saya berharap mereka hanya akan membawakan lagu-lagu mereka sendiri. Ternyata mereka juga membawakan lagu-lagu The Beatles. Suatu hal yang patut disayangkan, karena mereka seperti tidak siap, meski pun lagu-lagu tersebut diaransemen ulang sesuai dengan warna musik mereka yang nge-jazz. Mikrofon yang nggak bunyi, bass yang kegedean, dan mixing yang kurang pas terasa sangat mengganggu, terutama di lagu pertama mereka (Norwegian Wood).

Sesi kedua penampilan G-Pluck dipercantik oleh kehadiran Vicky Sianipar pada keyboard. Permainan Vicky terlihat menonjol pada lagu-lagu yang agak psychedelic semacam Sergeant Pepper's Lonely Hearts Club Band. Menjelang akhir pertunjukan, G-Pluck kembali menggeber panggung dengan lagu-lagu bernuansa rock n' roll. Koor penonton yang mengalun sejak awal semakin membahana ketika Awan dengan gaya yang lumayan komunikatif mengajak penonton bernyanyi bersama pada lagu Hey Jude.

Secara keseluruhan, penampilan G-Pluck malam itu sangat baik. Terlepas dari beberapa kekurangan kecil seperti berhenti yang nggak kompak di lagu Day Tripper atau teks yang lupa di lagu Sergeant Pepper's (maklum nggak pake 'paririmbon'), G-Pluck berhasil mengobati kerinduan para penggemar The Beatles yang rela merogoh kocek (sendiri atau kocek temennya) cukup dalam, demi menonton pertunjukan mereka. Dan, seolah menjawab judul tulisan ini, Beatles Melayu ternyata masih cukup laku dalam khasanah pertujukan 'live music' di tanah air. Bravo, G-Pluck.
Baca selengkapnya...