Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

BOSAN

Bosan, jenuh, atau kata lain yang sepadan dengan itu, kadang-kadang terucap juga dari mulut kita ketika sampai pada suatu kondisi di mana kita merasa tidak ada lagi hal menarik yang bisa kita lakukan. Kondisi stagnan dari itu ke itu membuat kita terpancing untuk melakukan sesuatu di luar kebiasaan. Cari suasana lain, mungkin begitu istilahnya.

Rasa bosan atau jenuh itu tentu tidak selalu sama. Ada yang tingkat tinggi, sedang dan rendah. Itu kalau disederhanakan. Tapi di tingkat mana pun kita berada, pasti ada sesuatu di luar kebiasaan yang ingin kita lakukan. Dan rasa bosan itu tidak mengenal strata sosial. Ia bisa hinggap pada siapa saja, dari kalangan mana pun.

Maka tak usah heran jika orang-orang yang kelebihan uang rela membayar mahal untuk berkotor-kotor di sawah dan lumpur demi mengusir kejenuhan. Memandikan kerbau yang pasti membosankan bagi pertani miskin, berubah menjadi sesuatu yang mahal dan menyenangkan bagi orang kaya yang biasa hidup di tempat bersih dan nyaman.

Makanan kampung yang biasa dikonsumsi petani sederhana semacam nasi tutug oncom, bisa berubah menjadi makanan yang lezat dan eksklusif di mata orang kaya yang tidak biasa menyantapnya. Padahal buat orang miskin, menu itu hanyalah siasat untuk menekan pengeluaran lauk seminimal mungkin. Tapi dengan kemasan dan sentuhan penyajian ala hotel, harganya bisa naik berlipat-lipat. Sebab pada hakikatnya yang dijual bukan makanannya, melainkan suasana dan kemasannya.


Bagaimana dengan orang miskin yang bosan dengan kemiskinannya? Ini memang tidak mudah. Mencari suasana lain menjadi masalah tersendiri bagi mereka. Meski bosan dengan menu harian kaum papa, mereka tak bisa dengan mudah berganti suasana dengan makan enak di restoran mahal misalnya. Mau beli pake apa? Atau jika ingin merasakan tidur nyaman di hotel, mereka hampir tak mungkin melakukannya karena tidak ada biaya.

Lalu? Ada jalan pintas yang bisa dilakukan. Mari nonton sinetron Indonesia yang sering menghadirkan dunia orang kaya tanpa alasan yang jelas. Di situ kita bisa tahu bagaimana cara orang kaya bersekolah tanpa harus belajar, misalnya. Yang harus dilakukan cuma pacaran, berantem, nge-mall, nonton, dan pekerjaan-pekerjaan enak lainnya. Uangnya toh tinggal minta kepada orang tuanya yang tak pernah jelas pekerjaannya apa. Pokoknya konon punya perusahaan besar yang menghasilkan uang banyak.

Selesai nonton, tentu tak ada yang bisa diperoleh kecuali mimpi bisa hidup enak dengan mudah seperti di sinetron. Maka ketika kembali ke kehidupan nyata, mereka pun mabuk ekstase kenikmatan bermimpi yang dicekokkan kotak bodoh itu. Proses itu terus berulang, menjadi sebuah siklus tak berujung. Bosan, menikmati mimpi, bosan lagi, mimpi lagi....

Kesimpulannya? Bosannya orang miskin dan orang kaya itu, tetap saja beda.

Baca selengkapnya...


10 JANGAN VERSI IBU SAYA

Mungkin ini bukan hal yang istimewa, karena sesungguhnya cuma aturan yang diterapkan ibu saya di rumah. Atau lebih tepatnya nasihat dan rambu-rambu, karena toh tidak ada sanksi hukum kalau sekali-sekali dilanggar :) Dan barangkali semua ibu juga mengajarkan hal yang sama. Hanya saja buat saya menjadi istimewa karena dari ibulah saya mendengarnya pertamakali.

  1. Jangan jajan sembarangan
  2. Maksudnya jangan jajan kalau tempat jualannya kurang bersih, sebab makanan yang kurang bersih bisa menyebabkan sakit. Setelah dewasa saya mulai mengerti bahwa alasan utama aturan ini adalah: ibu saya tak punya uang untuk bekal sekolah anaknya. Kompensasinya, sebelum sekolah wajib sarapan di rumah.
  3. Jangan kebanyakan main
  4. Di rumah semua pekerjaan dilakukan secara gotong royong. Setiap anggota keluarga punya tugas masing-masing sebab kami tak mampu menggaji pembantu. Ibu tahu persis bahwa dengan trik tertentu, pekerjaan di rumah bisa menjadi permainan yang menyenangkan. Misalnya: membereskan kamar ambil mencari 'harta karun'. Dan harta kaarunnya adalah permen yang sebelumnya diam-diam sudah disiapkan ibu di tempat-tempat tersembunyi.
  5. Jangan gampang menerima pemberian orang
  6. Kata ibu, kita memang harus beryukur jika diberi sesuatu oleh orang lain. Tapi jika terlalu sering dan kita tak pernah menolak atau bahkan berharap diberi, orang lama-lama akan bosan. Lebih baik memberi kalau kebetulan kita punya. Belakangan saya tahu bahwa tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah.
  7. Jangan lupa bilang permisi jika lewat di depan orang
  8. Menurut ibu saya, cuma ayam yang suka lewat tanpa permisi. Dalam budaya Sunda, ucapkanlah "punten" sambil sedikit membungkukkan badan. Jangan lupa senyum. Alhamdulillah, kebiasaan ini terbawa sampai sekarang.
  9. Jangan sampai bunyi saat mengunyah makanan
  10. Dalam bahasa Sunda, bunyi ketika mengunyah makanan disebut 'ceplak'. Jika di rumah ada yang ceplak, biasanya dipelototin rame-rame :)
  11. Jangan nimbrung dan nguping obrolan orang tua
  12. Maksudnya jangan nimbrung ketika orang tua sedang berbicara atau ngobrol serius. Barangkali karena memang ada hal-hal yang belum pantas didengar oleh anak-anak. Biasanya ada pemberitahuan dulu ketika Ayah dan Ibu mau ngobrol serius.
  13. Jangan terlalu lama bertamu di rumah orang
  14. Siapa tahu tuan rumah sedang banyak kerjaan atau hal-hal yang tidak ingin diketahui atau diganggu oleh orang luar.
  15. Jangan belajar berlebihan
  16. Lho, bukankah belajar itu penting? Maksudnya, tak peernah ada jam belajar resmi di rumah kami. Belajar tak bisa dipaksakan. Yang penting, usahakan membaca setiap ada kesempatan. Kebiasaan membaca adalah kunci untuk menyerap pengetahuan. Hasilnya, saya konon termasuk pinter :) Alhamdulillah...>
  17. Jangan manja
  18. Belajar mencuci baju sendiri, menyetrika, bahkan masak nasi bukan cuma buat perempuan. Cowok juga harus bisa. "Kita bukan orang kaya, jadi harus belajar minimal melayani diri sendiri," begitu kata ibu. Sejak lulus SMP saya kost dan harus nyuci baju sendiri. Masak nasi juga :)
  19. Jangan lupa sholat
  20. Tuhan ngasih segala kebutuhan kita secara gratis. Masa kita nggak berterimakasih? Sholat adalah simbol terimakasih kita pada Tuhan. Orang yang tidak tahu berterimakasih adalah orang yang paling kurang ajar sedunia. Ibu, Tuhan, maafkan aku... Ini yang paling sering kulanggar :(
Ini rambu-rambu sederhana yang diberlakukan di sebuah keluarga kampung yang juga sederhana. Tapi jika dipatuhi, hasilnya pasti luar biasa.
Baca selengkapnya...


The Long And Winding Road

Begitulah kata The Beatles: Jalan Panjang dan Berliku. Dan begitu pula yang saya alami setiap kali melakukan perjalanan menggunakan kendaraan umum, baik secara kiasan mau pun dalam arti yang sesungguhnya.

The Long And Winding Road memang sungguh-sungguh sebuah kondisi yang harus saya tempuh. Lebih dari 200 km perjalanan pulang pergi harus saya nikmati apa adanya, menempuh kondisi jalan yang berkelok-kelok dan naik turun dalam artian yang sesungguhnya. Benar-benar sebuah perjalanan yang melelahkan.

Tapi itu belum semuanya, karena masih harus ditambah dengan kondisi di dalam kendaraan umum yang jauh dari nyaman. Panas, berdesak-desakan, sangat tidak tepat waktu dan tidak bisa diprediksi, serta ancaman keselamatan kalau kebetulan sang sopir bertindak ugal-ugalan. Ini yang saya maksud jalan panjang dan berliku dalam arti kiasan.


Dengan semua ketidaknyamanan itu sesungguhnya biaya yang harus kita keluarkan menjadi amat sangat mahal, sebab penderitaan serta ancaman yang kita alami selama dalam perjalanan tidak bisa dinilai dengan uang. Kalau sudah tahu seperti itu, kenapa tidak pilih cara yang lain?

Secara teori memang sangat logis mengajukan pertanyaan seperti itu. Kita bisa menggunakan kendaraan pribadi atau naik kendaraan milik biro perjalanan. Sayangnya tak semua orang beruntung memiliki alternatif yang lebih menyenangkan. Saya misalnya, tidak memiliki kendaraan pribadi. Jadi alternatif ini otomatis harus dicoret. Travel? Tidak ada trayek yang melewati jalur yang harus saya tempuh. Maka alternatif ini pun otomatis dicoret.

Dengan demikian praktis saya tidak mempunyai pilihan lain kecuali bersabar menjalani kondisi yang ada. Kalau pun bisa disebut pilihan, berdoa barangkali menjadi satu-satunya alternatif dalam mengantisipasi segala kemungkinan buruk yang mungkin terjadi akibat melakukan perjalanan menggunakan kendaraan umum di Indonesia.

Pemerintah yang seharusnya bertanggungjawab atas segala ketidaknyamanan ini terbukti mandul dan tidak mampu mengatasi persoalan yang sudah berlangsung selama puluhan tahun tersebut. Padahal jika ada niat baik, saya 100 persen yakin kondisi ini bisa diperbaiki. Perlu regulasi yang tegas, dan tentunya juga eksekusi yang tegas di lapangan untuk menciptakan kondisi angkutan umum massal (mass rapid transport) yang nyaman.

Lalu kenapa pemerintah tidak mau melakukannya? Saya tidak tahu karena saya bukan orang pemerintah ataupun orang yang terlibat dalam pengambilan keputusan berbagai kebijakan (ketidakbijakan?) pemerintah. Tapi kalau disuruh menebak, menurut saya kemungkinan besar hal itu terjadi karena para petinggi tidak pernah merasakan apa yang saya dan orang-orang senasib rasakan. Mereka tidak pernah merasakan betapa menderitanya menjadi pengguna kendaraan umum di Indonesia.

Yang mereka tahu hanya kenyamanan berada dalam kendaraan mewah ber-AC, mendapatkan fasilitas kelas satu, dan berusaha mempertahankan kondisi nyaman itu selama mungkin. Soal rakyat harus menderita? Ah, itu sih derita loe.

Keciaaan deh rakyat....

Baca selengkapnya...


Jempol Itu Simbol

Ya, simbol alias lambang. Lagipula, siapa bilang jempol itu surabi? Ya sudahlah, semua pasti sepakat. Toh tidak ada yang perlu diperdebatkan, apalagi dikaitkan dengan surabi. Pasti nggak nyambung:)

Jempol atau persisnya thumb-up alias ibu jari yang mengarah ke atas, adalah simbol universal untuk menyatakan bahwa yang diberi simbol tersebut bagus. Meski ada lagi thumb-down alias jempol yang mengarah ke bawah untuk menyatakan bahwa sesuatu itu jelek, namun kali ini kita tidak akan membicarakan hal itu. Jadi, mari kita sepakati lagi bahwa jika saya menyebut jempol, itu artinya thumb-up.

Sekarang mari kita perhatikan jempol masing-masing. Bukan jempol kaki lho, jempol tangan. Ini adalah bagian tubuh yang perlu kita hormati mengingat ia merupakan ibu dari jari-jari kita yang lain. Dan mungkin justru karena perannya sebagai ibu itulah maka ia dijadikan simbol untuk menyatakan yang baik-baik. Beda dengan 'si anak nakal' jari tengah yang biasa dipakai untuk mengekspresikan hal-hal yang tidak senonoh.

Kenapa saya minta untuk memperhatikan jempol masing-masing? Sekedar untuk memastikan bahwa jempol Anda bersih :) Periksa kalau-kalau ada kotoran hitam di kukunya. Ini penting karena simbol kebaikan tentu tidak boleh mengandung hal-hal yang bisa mencemari kadar kebaikannya.

Sekarang bayangkan ketika guru sekolah Anda dulu memuji kepandaian Anda dengan memberi acungan jempol. Apa yang Anda rasakan? Atau bayangkan ketika wanita cantik tetangga Anda mengacungkan jempol sambil melemparkan senyum paling manis karena Anda berhasil membetulkan komputernya yang rusak. Gimana rasanya? Pasti Anda degdegan bahagia sambil membayangkan betapa senangnya kalau dia mau jadi pacar Anda ;)

Itu sekedar gambaran betapa hanya dengan gerakan sederhana mengacungkan jempol bisa tercipta kebahagiaan yang begitu besar. Padahal Anda atau siapa pun tidak perlu mengeluarkan uang untuk melakukannya. Tentu saja melakukannya harus disertai dengan hati yang tulus, dan juga jangan terlalu sering.

Lho kenapa? Bukankah semakin sering kita mengacungkan jempol akan semakin sering pula orang lain merasa bahagia? Oh, no my man! Kalau Anda pernah belajar ekonomi, Anda pasti kenal dengan yang namanya supply & demand. Antara permintaan dan penawaran harus dijaga agar seimbang. Kalau supply alias penawaran lebih besar daripada demand atau permintaan, maka akan terjadi ketidakseimbangan pasar. Nilai produk akan turun, dan harganya akan anjlok.

Maka jika Anda terlalu sering mengacungkan jempol Anda, apalagi hanya sekedar untuk menyenangkan orang lain, nilai jempol Anda akan turun drastis. Penyanyi dangdut yang Anda taksir mungkin tak merasa bahagia lagi ketika Anda mengacungkan jempol untuk setiap kata yang dia nyanyikan, atau bahkan ketika ia batuk dan keselek. Saya yakin sang dewi pujaan ini bahkan akan merasa sebal dan menganggap Anda menghinanya. Jadi lakukan seperlunya saja pada saat Anda memang benar-benar mengagumi sesuatu dari lubuk hati Anda.

Jika Anda ngotot melakukannya sesering mungkin, maka akan terjadi inflasi jempol. Persis seperti yang terjadi di Facebook. Media jejaring pertemanan yang jeli ini memang menyediakan simbol thumb-up alias jempol untuk mengekspresikan pujian antar sesama pengguna. Celakanya banyak orang yang tidak sadar akan bahaya inflasi jempol ini. Maka bertebaranlah jempol-jempol ngasal. Masa orang nulis 'wkwkwk' saja dikasih jempol, tanda tanya dikasih jempol, tulisan 'gue laper' pun dikasih jempol. Ini terutama kalau yang nulis statusnya adalah cewek cantik. Yang lebih parah lagi, ada orang yang mendapat musibah malah dikasih jempol... Astaga!

Makanya kalau saya ada di friendlist Anda dan saya jarang ngasih jempol atau komentar, jangan sedih atau sebel. Itu adalah cara saya menyayangi Anda agar sekalinya saya ngasih jempol atau komentar, Anda akan merasa bahagia sebab percayalah, apa yang saya lakukan benar-benar tulus.

O ya, pesen saya, berikan jempol Anda untuk tulisan ini hanya jika Anda benar-benar menyukainya. Toh saya tahu persis, tanpa ngasih jempol pun Anda pasti menyukai tulisan ini ;)

Ayo ah, jangan obral jempol sembarangan...
Baca selengkapnya...


Gombal

Menurut KBBI Ada dua arti kata gombal. Yang pertama artinya kain yg sudah tua (sobek-sobek). Biasanya dipakai untuk bersih-bersih, mengelap benda-benda yang berdebu. Sementara gombal yang kedua artinya bohong, omong kosong, rayuan. Tapi rasanya yang paling sering kita dengar adalah gombal dalam pengertian yang kedua.

Kenapa bisa begitu? Barangkali ada banyak alasan. Tapi yang paling memungkinkan adalah karena banyaknya orang yang berbohong di sekitar kita. Politisi bohong, artis bohong, media bohong, tetangga bohong, dan mungkin kadang-kadang Anda juga :)

Kenapa berbohong? Ini juga banyak penyebabnya, antara lain:

1. Untuk menutupi kelemahan
Setiap orang ingin tampil perfect di mata orang lain. Karena manusia itu tidak ada yang sempurna, maka pasti suatu saat kita berbohong juga. Istilah bohong mungkin lebih tepat dalam hal ini.

2. Untuk menjaga perasaan orang lain
Ini sih ada bagusnya dan saya pikir tidak termasuk gombal asal jangan berlebihan. Kalau teman wanita Anda minta pendapat soal dietnya yang gagal, jangan sekali-sekali mengatakan, "Kamu tambah endut deh kayaknya", mekipun itu benar. Percayalah, jujur pada situasi ini hanya akan menciptakan masalah besar bagi Anda.

3. Demi mendapatkan sesuatu
Ini biasanya terjadi pada situasi di mana kita tidak akan mendapatkan apa yang kita inginkan kalau kita jujur. Misalnya, ketika Anda nembak cewek matre, maka ada kemungkinan Anda akan mengaku punya 3 apartemen dan 5 mobil meskipun Anda tidak sekaya itu. Soalnya kalau Anda jujur, belum apa-apa Anda sudah dicuekin.

Politisi gombal merayu calon pemilih dengan janji-janji muluk. "Nanti kalau saya terpilih, semua akan saya belikan rumah baru!" Kalau dia sedermawan itu, kenapa harus nunggu terpilih dulu? Mbok ya sekarang saja, Tuhan kan tidak pernah membatasi kapan orang harus bersikap dermawan:)

gambar: www.mobavatar.com
Orang pacaran juga banyak gombalnya. Mengaku bujangan padahal cucunya segudang (eh, itu mah lagu..), mengaku akan setia, padahal sebenarnya sudah bosan, dll. Kalau suatu saat terungkap, maka makian yang paling tepat adalah "Gombal lu!"

Atau, suruh saja dia dengerin lagu gombal ini.

Nah, kalau pacar Anda tiba-tiba saja menelepon Anda dan mengatakan, "Babe, nothing's gonna change my love for you...", percayakah Anda?

Ah, jangan percaya! Orang pacaran pasti banyak gombalnya. Kecuali saya.
Baca selengkapnya...


Pintar-Pintar Pilih Tutorial

Seiring dengan semakin berkembangnya pengguna internet, kebutuhan akan informasi juga semakin bertambah. Orang semakin sadar bahwa hampir semua jenis informasi bisa dicari di internet. Secara berkelakar, teman saya bahkan mengatakan sekarang ini peniti jatuh pun bisa dicari di internet.

Belajar mengaji, belajar ilmu agama, belajar masak, belajar apa pun bisa dilakukan tanpa harus keluar rumah. Cari di Google, maka dalam hitungan detik aneka tutorial yang kita butuhkan pun terpapar di depan mata. Asal ada kemauan, orang bisa pintar dalam waktu singkat.

Tersedianya ragam informasi ini jelas sangat membantu mereka yang membutuhkan. Tanpa harus repot keluar rumah, tanpa harus bayar, kita bisa belajar sendiri dengan nyaman. Namun terlepas dari semua kemudahan yang menggiurkan itu, kita tetap harus berhati-hati. Tidak semua informasi yang ada di internet itu bermutu. Kita tetap harus pintar-pintar memilih mana yang berkualitas dan mana yang tidak. Adakalanya tutorial yang kita butuhkan dibuat secara asal-asalan atau bahkan sekedar hasil copy paste dari website atau blog milik orang lain.


Lucunya saya sering menemukan blog tutorial yang si penulisnya terkesan tidak memahami apa yang dia tulis. Ketika saya tanya tentang beberapa hal yang kurang saya pahami, dia hanya menjawab berputar-putar dan malah semakin membingungkan. Mungkin itu karena tulisan tersebut hasil copy-paste dari tulisan orang lain.

Maka, jika Anda ingin mempelajari sesuatu di internet, carilah tutorial yang penulisnya memang menguasai masalah yang dia bahas. Itu bisa diketahui ketika kita menanyakan sesuatu tentang apa yang dia tulis. Jika dia bisa menjelaskan dengan tepat dan rinci, berarti dia memang ahli di bidangnya. Maka Anda boleh berbahagia dan melanjutkan proses belajar gratis Anda. Tapi jika jawabannya terkesan berbelit-belit sekedar untuk menutupi ketidaktahuannya, mendingan Anda cari lagi tutorial sejenis yang ditulis oleh orang yang mumpuni di bidangnya.

Belajarlah dari orang yang tepat, dari sumber yang tepat. Jangan sampai Anda belajar ilmu sesat :) Happy learning.
Baca selengkapnya...


Angry Jokowi, Media Kampanye Alternatif

Mendengar kata kampanye, saya yakin Anda pasti langsung mengasosiasikannya dengan panggung, orang teriak-teriak hingga berbusa, orang-orang bayaran yang berakting jadi pendukung, lengkap dengan panggung dangdut di sebuah lapangan. Biasanya memang seperti itu. Tapi tahukah Anda kalau pasangan calon gubernur DKI Jakarta Jokowi - Ahok menggunakan media game untuk kampanye?

Terlepas dari efektif tidaknya cara kampanye seperti ini, kita patut angkat jempol untuk orang-orang kreatif di balik tim sukses pasangan Jokowi - Ahok. Paling tidak, metode kampanye alternatif ini bisa mengurangi friksi secara fisik, menghemat biaya, serta mengurangi polusi. Gamenya sendiri lumayan menarik. Cara mainnya mirip game Angry Bird. Itu sebabnya tulisan ini saya beri judul Angry Jokowi :)

Selain jadi trending topic di twitter, game bertajuk Selamatkan Jakarta ini juga mulai diliput beberapa media asing seperti Tech Asia, Asian Wallstreet Journal, dan The Strait Times Singapura.

Penasaran? Ayo langsung mainkan game-nya. KLIK DI SINI
Baca selengkapnya...


Maaf

Maaf. Sebuah kata yang sederhana, hanya terdiri dari empat huruf. Namun makna yang ada dibaliknya jauh dari sederhana. Sebuah kata yang melibatkan emosi dan ketulusan. Begitulah seharusnya. Sebab jika hanya sekedar diucapkan, tidak disertai dengan emosi dan ketulusan, maka nilainya tidak lebih dari sekedar energi yang digunakan untuk mengucapkan atau menuliskannya.

Maaf bisa menciptakan senyum, tangis bahagia, dan kelapangan hati. Maaf bisa menyambung silaturahmi yang terputus, menghapus rasa benci, dan membuat hidup menjadi lebih indah dan menyenangkan. Maka minta maaflah pada orang-orang yang pernah kita sakiti, sengaja atau tidak. Jangan lupa, terimalah permintaan maaf dari orang yang pernah berbuat salah, yang pernah menyakiti kita.

Apakah bermaaf-maafan hanya dilakukan pada saat Lebaran? Tentu saja tidak. Idealnya, proses meminta maaf dan memaafkan ini dilakukan ssetiap ada kesempatan. Bukankah manusia adalah lahan yang subur untuk berbuat kesalahan? Pasti ada saja kesalahan yang kita lakukan dalam berkata, bertindak, dan bersikap. Mungkin saja kita tidak merasa melakukan kesalahan, tetapi siapa tahu apa yang kita lakukan atau yang kita ucapkan telah menyakiti perasaan orang lain tanpa kita sadari.

Jangan menunggu Hari Raya Idul Fitri untuk meminta maaf. Lakukan itu sesegera mungkin, selagi kita bisa. Idul Fitri adalah momentum tahunan untuk menyadarkan kita betapa mudahnya berbuat kesalahan dan betapa sulitnya menggerakkan hati untuk meminta maaf. Berjanjilah pada diri sendiri untuk membiaakan diri meminta maaf, dan juga sekaligus memaafkan orang lain, diminta ataupun tidak diminta.

Dan tentu sangat beralasan jikapada kesempatan ini saya juga meminta maaf kepada Anda dan siapa pun yang membaca tulisan ini. Siapa tahu ada kata-kata saya yang membuat Anda merasa tidak nyaman atau merasa tersakiti. Percayalah, saya tidak pernah bermaksud menyinggung atau menyakiti siapa pun. Semoga hari-hari mendatang menjadi lebih indah dan menyenangkan.

Selamat Hari Raya Idul Fitri.
Baca selengkapnya...


Dirgahayu Bangsa Seremonial

Tanggal 17 Agustus 2012 kita kembali memperingati hari bersejarah: ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Hari yang tahun ini kebetulan juga bertepatan dengan hari Jum'at dan bulan Ramadan pula. Persis sama dengan yang terjadi di tahun 1945.

Sebuah perjalanan panjang, 67 tahun sejak kita secara de jure dinyatakan terbebas dari penjajahan (bangsa lain). Soal apakah saat ini kita masih dijajah oleh bangsa lain dan bangsa sendiri secara terselubung, itu soal lain.


Esensi merayakan hari kemerdekaan adalah bersyukur bahwa sebagai sebuah bangsa kita (secara teori) bebas menentukan nasib sendiri, dan tidak tergantung kepada bangsa lain. Banyak yang berharap bahwa perayaan hari kemerdekaan tahun ini bisa lebih bermakna sebab berlangsung pada bulan suci Ramadhan. Tak berlebihan jika ada harapan agar tahun ini bisa menjadi titik awal perubahan perjalanan bangsa menuju ke arah yang jauh lebih baik.

Sayangnya, belum apa-apa harapan itu sudah ternodai oleh kabar yang kurang pantas. Di tengah keluh kesah rakyat miskin yang gerah menghadapi Lebaran, istana terkesan bermewah-mewahan dengan menganggarkan 7,8 milyar rupiah untuk perayaan 17 Agustus di istana saja (data dari Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran/FITRA).

Jika kita amati, bangsa kita memang termasuk bangsa seremonial. Selalu ada alasan untuk merayakan sesuatu. Bahkan jika memungkinkan, barangkali piring jatuh pun perlu dirayakan. Apalagi ini sebuah hari bersejarah dan penting. Hanya saja ketika hal itu dilakukan secara berlebihan rasanya kok jadi aneh, dan barangkali juga menyakitkan.

Bayangkan ketika di satu sisi banyak orang yang untuk mendapatkan uang 10 atau 20 ribu saja harus memeras keringat seharian, ini malah menghabiskan 7,8 milyar dalam waktu sehari. Pantas? Sangat tidak pantas, bahkan ketika itu dilakukan di level nasional. Tidak ada urgensi untuk merayakan hari kemerdekaan secara mewah, apalagi di tengah kondisi bangsa yang memprihatinkan. Bagi saya sendiri ini sudah lebih dari menyakitkan. Ini sudah menjijikkan!

Apapun, selamat ulang tahun Indonesia, selamat ulang tahun bangsa seremonial.

PS: Ini ada kado khusus untukmu: Renungan Merdeka.
Baca selengkapnya...


Robohnya Masjid Kami

Ini Ramadhan. Ini bulan suci. Bulan di mana orang terkesan lebih religius. Bulan di mana orang-orang memiliki ghirah beribadah yang lebih tinggi dibanding bulan lainnya. Bulan di mana masjid - pada taraf tertentu - mampu bersaing dalam soal keramaian dengan mall dan supermarket.

Ya, masjid yang biasanya lengang menjadi lebih ramai, minimal saat tarawih. Paling tidak, di bulan inilah syiar Islam lebih nampak ke permukaan dibanding bulan-bulan lainnya. Tapi bukankah seharusnya kondisi ini terjadi dibulan manapun? Idealnya memang begitu, tapi daripada tidak sama sekali, ini masih jauh lebih baik.

Begitulah ritual tahunan yang selalu terjadi. Siklus musiman ini menjadi semacam tradisi yang menjadi ciri Ramadhan, bulan yang kerap dibandingkan dengan kualitas seribu bulan.

Makanya setiap masjid biasanya sibuk bebenah menjelang Ramadhan, khusus untuk memfasilitasi ghirah umat yang meningkat di bulan suci ini. Semua dilakukan demi kenyamanan mereka yang beribadah di sana.
***

Masjid di sebelah rumah termasuk dalam kateori masjid besar. Pusat aktivitas keagamaan level kota kecamatan. Seperti masjid-masjid pada umumnya, di sini aktivitas keagamaan selalu terlihat lebih ramai di bulan Ramadhan. Sayangnya Ramadhan tahun ini benar-benar lain dari biasanya. Masjid itu, rata dengan tanah.

ilustrasi: m.detik.com
Kena gusurkah? Tentu tidak. Siapa pula yang punya nyali lebih untuk menggusur masjid? Masjid itu memang sengaja dirobohkan untuk dibangun kembali. Paling tidak begitulah konon yang diungkapkan oleh panitia pembangunan mesjidnya. Lalu kenapa mesti di bulan Ramadhan? Kenapa harus dilakukan ketika ghirah umat sedang begitu besar untuk melakukan aktivitas di sana? Kenapa tidak di bulan lainnya, sebelum atau sesudah Ramadhan?

Tak pernah ada jawaban pasti soal itu. Hanya Tuhan dan mereka yang terlibat dalam proses merobohkan masjid itu saja yang tahu pasti. Hanya saja ada selentingan yang beredar soal kenapa harus dirobohkan persis di awal Ramadhan. Konon itu dilakukan bukan tanpa alasan.

Maksudnya? Begini, menjelang Lebaran sudah dipastikan banyak perantau yang pulang kampung. Dan itu berarti banyak uang hasil merantau dibelanjakan dikampung halaman, termasuk belanja yang bermotif religius. Orang biasanya lebih dermawan dalam berbagi rezeki. Apalagi untuk hal-hal yang sifatnya keagamaan.

Lalu korelasinya dengan merobohkan masjid? Logikanya sederhana. Melihat masjid yang rata dengan tanah, masa sih orang tega tidak mau menyumbang agar masjid bisa segera berdiri kembali? Dengan kata lain, mungkin, pihak panitia pembangunan (perobohan) masjid berharap agar banyak dana terkumpul dengan menjual 'kondisi memprihatinkan' yang terpapar saat lebaran.
***

Saya tidak tahu apakah benar alasannya seperti itu atau bukan. Yang jelas, sekuat apapun saya mencoba untuk mencari motif lain di balik proses perobohan masjid, cuma alasan itulah yang masuk akal.

Jadi? Saya mengelus dada. Kalau benar demikian, betapa naifnya alasan tadi. Lebih jauh lagi, saya jadi berpikir tentang logika pengemis. Ciptakan kondisi miskin yang paling dramatis, agar semakin besar rasa iba orang yang melihatnya. Dan rasa iba itu berbanding lurus dengan besarnya uang yang diberikan untuk si pengemis. Semakin iba seseorang, semakin besar uang yang diberikan.

Astaghfirullah, benarkah demikian? Padahal itu sangat bertolak belakang dengan ajaran Islam yang mengutamakan kemandirian. Islam mewanti-wanti agar umatnya tidak bermental pengemis! Kalau mesjid saja dibangun dengan cara yang tidak islami, bagaimana kami bisa mendapatkan kedamaian di tempat yang seharusnya suci? Bila rumah Allah dicederai dan dikhianati, di tempat mana lagi kami harus berlindung?

Hari ini telah lahir sebuah ratapan kesedihan: robohnya masjid kami. Inna lillahi wainna ilaihi roji'un.

Inpirasi judul: Robohnya Surau Kami- A.A. Navis.

Baca selengkapnya...


Fenomena Klinik Tong Fang

Dulu kakak saya tomboy seperti Olga Lydia. Tapi sejak berobat ke klinik Tong Fang, kini kakak saya gemulai seperti Olga Syahputra. Terimakasih Tong Fang.
Anda merasa familiar dengan redaksional paragraf di atas? Itu pasti karena Anda pernah atau bahkan mungkin sering menonton iklan sejenis di televisi. Tapi jika kalimatnya terasa janggal jangan heran, karena paragraf tadi saya kutip dari tulisan lucu-lucuan di Facebook. Tulisan-tulisan yang merupakan pelesetan dari testimonial ala Tong Fang ini memang sedang menjadi trend di internet. Bahkan ada yang bikin page facebook khusus seperti di sini misalnya.

Saya tidak tahu apakah iklan klinik pengobatan itu masih ditayangkan di TV atau tidak, karena kalau tidak salah ada rambu-rambu KPI yang dilanggar. Namun terlepas dari soal pelanggaran, iklan tersebut mendapat perhatian yang cukup besar dari masyarakat. Mungkin bukan karena iklan tersebut bagus seperti iklan produk makanan versi Afika misalnya, melainkan justru karena iklan tersebut terkesan polos, lugu, atau mungkin juga menyebalkan bagi sebagian orang.


Saya jadi teringat sebuah pepatah 'mbeling' yang bunyinya: kalau mau cepet terkenal, bikinlah sesuatu yang sangat bagus, atau yang sangat jelek sekalian. Artinya jangan tanggung-tanggung, kalau mau bagus, bikin yang super bagus. Kalau tidak mampu, bikinlah yang super jelek. Dijamin, pasti terkenal.

Kenapa demikian? Saya tidak tahu persis penyebabnya. Tapi pengalaman empiris pribadi menunjukkan, saking sebalnya saya dengan sebuah lagu yang jelek, sering secara tidak sadar malah bersenandung lagu yang saya benci. Dan saya yakin ini berlaku juga untuk iklan yang 'menyebalkan'. Paling tidak, yang bisa menyita perhatian orang adalah sesuatu yang luar biasa bagus dan juga sesuatu yang sangat jelek.

Maka jangan heran kalau iklan klinik Tong Fang tiba-tiba saja menjadi buah bibir, baik di dalam pergaulan sehari-hari maupun di media pertemanan sosial semacam facebook dan twitter. Ketika saya iseng mengetikkan kata 'tong fang' di mesin pencari Google, hasilnya menampilkan 22,600,000 halaman. Sementara keyword 'tong fang lucu' menampilkan 153,000 hasil, dan keyword 'parodi tong fang' memunculkan 228,000 hasil.


Lucunya, page facebook resmi klinik Tong Fang juga tidak luput dari keisengan orang. Di halaman ini orang memposting berbagai pelesetan yang lucu-lucu. Sayangnya ketika saya balik lagi ke halaman tersebut, semua parodinya sudah dibersihkan oleh pemiliknya. Meski - diakui atau tidak - yang bersangkutan sesungguhnya diuntungkan, tapi lama-lama mungkin ia risih juga. Padahal tanpa harus bersusah payah membuat iklan baru lagi, fenomena klinik Tong Fang ini telah menjadi iklan gratis yang dahsyat secara otomatis.

Terimakasih Tong Fang :)
Baca selengkapnya...


Teknologi Masuk Kamar

Hah, masuk kamar? Bukaaan... bukan kamar dalam artian itu. Maksudnya, teknologi saat ini sudah sudah masuk ke ruang-ruang privat, ruang-ruang pribadi. Dan salah satu ruang privat itu adalah kamar. Kamar adalah ruang pribadi yang tak boleh dimasuki sembarang orang kecuali pemiliknya.

Benar, teknologi sudah masuk - bahkan menjajah ruang-ruang privat. Dimulai dengan teknologi radio, televisi, dan sekarang internet. Dulu, jaman radio masih termasuk barang mewah, mendengarkan radio otomatis termasuk salah satu bentuk kemewahan. Konon mendengarkan siaran wayang golek di malam Minggu merupakan ritual mewah yang dinikmati bersama di ruang publik. Saat radio baru dimiliki oleh segelintir orang kaya, maka acara mendengarkan siaran wayang golek menjadi ritual kolektif yang dinikmati bersama di ruang publik. Sambil ngopi, merokok, sekaligus bercengkrama di antara sesama kaum duafa yang numpang mendengarkan cerita wayang golek di rumah orang kaya yang 'dermawan', 'berharap dianggap dermawan', atau memang seorang yang benar-benar dermawan.

Ketika harga radio semakin terjangkau, maka simbol kemewahan itupun bergeser. Penandanya bukan lagi radio, melainkan berubah menjadi televisi alias tipi. Televisi kembali dinikmati secara kolektif di ruang publik. Acara nonton tivi juga menjadi wahana sosialisasi warga. Seiring berjalannya waktu, ketika harga televisi semakin 'terjangkau', fungsinya pun ikut bergeser. Televisi tak lagi hadir di ruang-ruang publik melainkan menyempit ke dalam ruang yang lebih pribadi: di dalam rumah. Saat ini boleh dikatakan jarang keluarga yang tidak memiliki televisi. Bahkan satu anggota keluarga satu televisi bukan lagi hal yang aneh.


Begitu cepatnya perubahan terjadi. Teknologi saat ini kian merangsek ke ruang-ruang yang sangat pribadi. Ketika internet tak lagi menjadi kemewahan, perubahan itu melesat laksana kilat. Beragam fitur teknologi terbaru susul menyusul dengan cepatnya. Apa yang bulan lalu dianggap teknologi tercanggih, hari ini sudah dianggap ketinggalan jaman. Telepon genggam yang dulu hanya berfungsi untuk menelepon dan mengirim teks (SMS), saat ini sudah berkembang menjadi semacam komputer pintar yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk mengakses aneka informasi di internet. Smartphone alias telepon pintar, begitulah orang menyebutnya. Dan pilihan yang tersedia begitu melimpah. Semua orang, mulai dari yang berkantong tebal hingga yang berkantong pas-pasan punya kesempatan yang sama, karena harganya juga bervariasi, disesuaikan dengan kualitas produknya.

Sungguh, di satu sisi ini adalah sebuah anugerah. Semua orang memiliki kesempatan yang nyaris sama untuk menikmati teknologi, khususnya yang berkaitan dengan internet. Sebagai sebuah sumber informasi yang luar biasa berlimpah, internet bisa membuat kualitas hidup seseorang meningkat pesat, terutama yang berkaitan dengan pengetahuan. Informasi apa saja bisa diperoleh di internet. Dan modal untuk mengaksesnya tak perlu mahal. Sebuah ponssel cerdas kelas low-end sudah memadai untuk kebutuhan ini.

Sayangnya, perkembangan ini tidak hanya mengakibatkan hal-hal positif saja, melainkan juga hal-hal negatif. Informasi yang tidak terkontrol bisa menjadi bumerang jika tidak disertai pengetahuan yang memadai untuk menyaringnya. Informasi yang diserap mentah-mentah tidak dijamin akan berefek positif, karena bisa juga malah menyesatkan. Sementara dari sisi sosial, masuknya teknologi ke ruang privat ini juga secara perlahan menyeret penggunanya menjadi pribadi-pribadi yang seolah-olah terasing dari lingkungan sekitarnya. Bukan sesuatu yang aneh ketika kita melihat orang berkumpul tetapi masing-masing sibuk dengan dirinya sendiri. Ada yang browsing internet, ada yang sibuk chatting dengan BBM, ada yang (mungkin masih) sibuk mengetik SMS, dll.

Tak salah ketika ada orang yang mengatakan bahwa teknologi semacam ini telah "mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat". Orang yang ada di samping kita dicuekin sementara kita sibuk ngobrol via BBM atau SMS dengan orang yang entah berada di mana. Kondisi semacam ini secara perlahan akan menggiring kita menjadi manusia-manusia yang tercerabut dari hangatnya interaksi sosial face to face yang sesungguhnya. Tanpa sadar kita telah terseret menjadi budak teknologi yang setia. Sehari saja tidak mengakses internet, membuat kita merasa ada sesuatu yang hilang. Teknologi, dalam hal ini internet, telah menjadi candu.

Lalu, haruskah kita meninggalkan semua ini dan kembali hidup di jaman 'Tarzan'? Tentu tidak demikian, sebab teknologi itu seperti pisau yang akan sangat bermanfaat jika digunakan secara bijak, tetapi sebaliknya akan merusak jika digunakan tanpa aturan. Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Gunakan teknologi dalam batas-batas yang wajar dan itu insya Allah akan bermanfaat. Tapi jangan lupakan orang-orang di sekitar kita, sebab merekalah yang sesungguhnya menciptakan eksistensi kita secara sosial.

Ingat, teknologi tak akan pernah bisa menggantikan keluarga, sahabat dan teman-teman secara fisik. Maka jangan sia-siakan mereka, paling tidak ketika kita berada diantara mereka. Dan yang terpenting, jangan biarkan teknologi menjajah kita sebab teknologi adalah 'pisau' kita.
Baca selengkapnya...


Sampul Fesbuk Pengusir Kantuk

Ternyata asik juga ya, melihat-lihat sampul facebook punya orang. Sampul facebook adalah istilah khusus untuk menyebut bagian atas pada halaman facebook, biasanya berupa gambar. Kalau dalam blog atau website, lazimnya disebut header.

Nah, gambar-gambar itulah yang menarik. Macam-macam, mulai dari yang biasa-biasa sampai yang unik. Ada gambar orang, gambar gitar, gambar abstrak dll. Jenis gambarnya biasanya mencerminkan minat atau ketertarikan si pemilik akun facebook.

Contoh sampul facebook yang unik. Siapa tahu bisa jadi inspirasi buat Anda:)

Kalau Anda penggemar The Beatles, Anda mungkin tertarik untuk menampilkan gambar The Fab Four itu di facebook Anda. Atau mungkin Anda ingin menampilkan gambar yang diambil dari film animasi Yellow submarine? Filmnya menarik meskipun saya tidak tahu apakah film itu termasuk film animasi terbaik atau tidak. Coba Anda cari gambarnya pada kumpulan gambar animasi di internet.

Ada juga yang menampilkan gambar James Hetfield, sang vokalis kelompok Metallica. Tebakan saya, pemilik akun facebook ini pasti penggemar Metallica. Kalau yang menampilkan gambar Dick Taylor saya jamin dia pasti penggemar Rolling Stones, dan usianya sudah 'matang'. Kenapa? Karena Dick Taylor ini adalah pemain bas grup Rolling Stones di masa-masa awal :)

Selain itu ada juga lho yang menampilkan gambar gitar atau gambar bas gitar. Kalau bukan pemain band, mereka yang memajang gambar gitar pasti tukang bikin gitar, atau punya toko gitar :)

Tapi dari sekian banyak jenis gambar yang menghiasi sampul facebook, yang terbanyak tetap gambar orang yang punya akun facebooknya itu sendiri. Yah, namanya juga manusia, sekali-sekali narsis kan nggak apa-apa. Mumpung belum ngetop, sempet-sempetin deh nampang di facebook. Kalau udah ngetop kan mana sempet?
Baca selengkapnya...


Kehilangan Pilihan

foto: poskota.co.id
Hingar bingar perayaan tahun baru Masehi baru saja usai. Segala tetek bengek keriaan larut dalam kelelahan yang terbagi rata antara yang merayakan dan tidak merayakan. Kelelahan fisik bagi yang merayakan dan kelelahan mental bagi yang tidak merayakan. Semua, langsung atau tidak, dipaksa untuk terlibat dalam tradisi lokal yang mengglobal akibat peran media dan industri.

Sepuluh tahun yang lalu, saya masih bisa membedakan suasana kampung dan kota besar menjelang tanggal 1 Januari. Di kota-kota besar orang-orang terkonsentrasi di tempat-tempat tertentu dengan segala keriuhrendahannya untuk merayakan malam pergantian tahun. Kebisingan suara terompet dan deru kendaraan, gemerlap kembang api, panggung-panggung hiburan, menjadi rutinitas selebrasi tahunan. Sementara di kampung-kampung, orang masih bisa bernafas lega menikmati kedamaian, jauh dari hiruk pikuk dan kebisingan.

Namun perbedaan itu tak lagi nampak saat ini. Kampung tak lagi steril dari suara-suara terompet dan deru kendaraan di malam tahun baru. Difahami atau tidak, perayaan tahun baru Masehi menjadi mainan baru atau bahkan berhala baru yang perlahan tapi pasti menginvasi hingga ke pelosok perkampungan. Kita tak lagi punya pilihan untuk sekedar menikmati kesunyian sambil melakukan kontemplasi alakadarnya sekali pun.

Barangkali, prosesi tahunan ini diam-diam sudah menjadi semacam katarsis terhadap beban hidup masyarakat kebanyakan. Larut dalam euforia hingar bingar perayaan tahun baru Masehi mungkin menjadi semacam penghilang rasa sakit untuk beberapa saat. Lupakan sejenak kemiskinan, ketidakadilan, korupsi yang merajalela, kebobrokan moral, dan lain-lain. Selebrasi tahun baru menjadi semacam onani kolektif yang menjanjikan kegembiraan semu, meski sesaat. Setelah itu, bersiap-siap untuk kembali ke dunia nyata yang keras dan getir.

Yang jelas, saya, dan mungkin juga Anda, telah kehilangan pilihan untuk menikmati malam pergantian tahun dengan cara kita. Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un.
Baca selengkapnya...


'Membaca' Puisi

http://www.art-is-fun.com
'Membaca' puisi yang saya maksudkan di sini adalah merasakan, menikmati dan menilai sebuah puisi. Jadi, bukan membaca dalam arti mendeklamasikan puisi. Jangan pernah mengharapkan saya akan membedah secara teoretis soal itu, sebab dalam hal ini saya tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya. Yang saya lakukan hanyalah berbagi dengan Anda tentang apa yang saya lakukan dalam 'membaca' sebuah puisi, baik itu karya orang lain maupun tulisan sendiri.

Karena saya tidak berlatarbelakang pendidikan sastra, maka yang pertama bermain adalah rasa. Maksudnya porsi terbesar yang mempengaruhi penilaian saya adalah rasa, dan bukan segala teori yang tidak saya kuasai dan belum pernah saya pelajari. Apakah kata-katanya mengalir? Biasanya saya merasa agak terganggu dengan kata-kata yang terlalu hebat meloncat-loncat, atau perpindahannya terlalu tajam dari satu simbol ke simbol yang lain. Ini bukan soal bagus atau jelek, melainkan hanya soal pilihan. Dan secara pribadi, hingga saat ini saya lebih memilih sesuatu yang tidak terlalu menyentak-nyentak.

Yang berikutnya adalah soal diksi atau pilihan kata. Dalam menulis puisi, saya lebih suka menggunakan kata-kata biasa, kata-kata yang tidak terlalu asing bagi orang kebanyakan seperti saya. Jika Anda mengenal lagu-lagu Chrisye yang ditulis oleh Guruh di tahun 80-an, syairnya banyak mengandung kata-kata dari bahasa Sanskerta. Meski secara keseluruhan saya sangat menyukai lagu-lagunya, tapi tetap saja bagi saya pilihan katanya adalah sebuah kegenitan. Perhatikan misalnya kata-kata dalam lagu Smara Dahana:

Ratih dewi, citra khayalku prana, dalam hidupku...
Andhika dewa, sirna duli sang smara, merasuk sukma...


Jujur, hingga saat ini saya hanya bisa menebak-nebak makna dari kata-kata tersebut. Puisi memang harus membuat orang berpikir, merenung, menjelajahi kedalaman makna. Tapi tentu tidak perlu sampai membuat orang mencari-cari toko buku yang menjual kamus Sanskerta :)

Familiar dengan lagu-lagu Iwan Fals? Perhatikan lirik-lirik lagunya yang bersahaja dan jarang mengada-ada. Meski tak pernah dijuluki penyair, saya memandangnya sebagai penyair. kata-katanya puitis dan menawarkan hal-hal yang baru.

Membandingkan mata yang bulat indah dengan bola pingpong (dalam lagu Mata Indah Bola Pingpong) misalnya, bagi saya adalah simbolisasi yang baru dan orisinal. Saya juga tercengang dengan cara dia membandingkan (maaf) pantat dengan salak raksasa dalam lagu Guru Zirah. Seumur-umur, saya baru mendengar perbandingan yang seperti itu. Anehnya, apa yang dia lakukan tetap terasa wajar dan tidak mengada-ada. Makanya saya katakan dia menawarkan sesuatu yang baru.

Kalau soal puisi yang dijadikan lagu, maka Ebiet G. Ade adalah favorit saya. Dia memang penyair yang kebetulan diberi kelebihan lain: suara yang indah. Dia bahkan mampu menyajikan erotisme dalam bahasa yang halus, puitis dan santun dalam syair lagu Cinta di Kereta Biru Malam:

Semakin dekat aku memandangmu,
semakin tegas rindu di keningmu
Gelora cinta membara di pipimu
Gemercik hujan di luar jendela
Engkau terpejam bibirmu merekah
mengisyaratkan hasrat di tanganmu

Selimut biru yang kau ulurkan kepadaku
Penahan dingin di kereta Biru Malam
Kau nyalakan gairah nafsuku, kau hela cinta di dadaku
hm..

Kau ciptakan musik irama tra la la la la la la
Kau ciptakan gerak irama tra la la la la
Kau ciptakan panas irama tra la la la la la la
Kau ciptakan diam irama tra la la la la ha ha ha ha
la la la la hm hm la la la la hm hm la la la la


Bahkan bait ketiga yang sesungguhnya merupakan bagian 'paling panas' dituliskan Ebiet dengan simbol-simbol yang justru paling halus. Hebatnya, kata-kata yang dipilihnya justru kata-kata yang sederhana dan sering kita temukan dalam keseharian. Jauh dari kesan genit dan pamer.

Kembali ke soal 'membaca' sebuah puisi, yang tidak kalah pentingnya bagi saya adalah soal menuliskan kata dengan benar. Ini penting bagi saya untuk membantu memudahkan dalam memahami makna secara keseluruhan. Logikanya, bagaimana kita bisa memahami makna puisi dengan baik jika kita masih harus disibukkan dengan memikirkan ejaan yang salah, kata-kata yang disingkat dll. Paling tidak, agar tulisan kita bisa dinikmati dengan baik, kesalahan-kesalahan seperti ini harus ditekan seminimal mungkin.

Terakhir, yang harus menerus saya katakan berulangkali, ini bukan tutorial apalagi teori yang wajib Anda patuhi. Saya bukan orang yang pantas untuk melakukan itu. Apa yang saya tuliskan di sini hanyalah apa yang ada di dalam otak saya saat ini, berdasarkan apa yang saya serap dari apa yang ada di sekitar saya. Apa yang saya lihat, apa yang saya dengar, apa yang saya baca, apa yang saya alami, apa yang saya pahami. Jadi bisa saja ada benarnya, tetapi yang pasti akan sangat banyak salahnya. Dan perkara dibaca orang atau tidak, sejujurnya itu sama sekali bukan urusan saya.

Maka jika Anda sudah terlanjur membaca sampai di sini, Anda tak perlu menjadi ragu atau takut untuk menulis sesuatu. Bahkan kalau Anda sama-sama pemula seperti saya, harusnya kita menjadi lebih terdorong untuk mencoba hal-hal baru tanpa rasa takut. Toh yang membaca kan kita-kita juga. Saling berbagi, baik langsung atau tidak, akan membuat proses belajar menjadi lebih cepat dan menyenangkan.

Ayo terus menulis!
Baca selengkapnya...


Introspeksi Berjamaah

Menelisik ke dalam diri sendiri memang gampang diucapkan, tetapi sangat susah untuk dilakukan. Apalagi jika sudah berkaitan dengan kealpaan atau kesalahan yang kita lakukan. Ada semacam kecenderungan berupa dorongan untuk menutupi kesalahan kita dengan berbagai argumen yang kita ciptakan secara fantastis sebagai pembelaan terhadap apa yang sudah kita lakukan.

Lain halnya jika yang ditelisik adalah kesalahan orang lain. Semuanya menjadi begitu gamblang dan jelas, seolah-olah kita melihat segala sesuatunya dengan menggunakan lensa mikroskopis. Bahkan tak pernah ada dorongan untuk mencoba mencari pembelaan terhadap kesalahan orang lain. Kita merasa tidak perlu melihat persoalan dari sudut pandang yang lain.

Namun ketika orang lain berusaha mengungkapkan kesalahan kita, maka yang muncul adalah sikap reaktif dan defensif. kalau kita saja sudah tidak mau menelisik kesalahan diri sendiri, apalagi jika hal itu dilakukan oleh orang lain. Reaksi kita cuma satu: lawan!

Di tingkat individu, hal seperti itu masih bisa dianggap wajar, karena biar bagaimana pun reaksi pertama ketika mendapat 'serangan' adalah berusaha mempertahankan diri. Namun tidak berarti bahwa sikap tersebut selalu benar, karena pada kenyataannya tuduhan, serangan, atau apapun namanya, tentu dipicu oleh sesuatu yang di mata orang lain merupakan kesalahan yang perlu diluruskan. Dan jika kita mau belajar, maka seharusnya hal itu dijadikan alat untuk memperbaiki diri. Bersyukurlah bahwa kesulitan kita untuk melihat kesalahan diri sendiri sudah dibantu oleh orang yang mau menunjukkan kesalahan kita.

Celakanya, ketika kesalahan yang kita lakukan itu menyangkut kepentingan orang banyak, dorongan untuk bersikap defensif justru menjadi lebih besar. Ini terjadi karena pihak yang harus kita yakinkan bahwa kita tidak bersalah bukan lagi satu orang, melainkan banyak orang. Bisa ratusan, bisa ribuan, bisa ratusan ribu, bisa jutaan, bahkan bisa ratusan juta jika itu sudah menyangkut sebuah kebijakan negara.

***

Otonomi daerah yang diberlakukan saat ini diharapkan bisa memperbaiki kondisi yang dulu banyak dikecam gara-gara terkesan sentralistis. Maka muncullah ide otonomi daerah sebagai implementasi dari sistem desentralisasi yang diyakini (pada saat dibuat) akan menciptakan pemerataan di daerah. Namun setelah perjalanan sekian lama, ternyata otonomi daerah malah memunculkan raja-raja kecil yang haus kekuasaan. Dengan bertopengkan membela kepentingan lokal, semakin maraklah keinginan untuk memisahkan diri dalam skala domestik. Bermunculannya propinsi, kabupaten, kecamatan, bahkan desa-desa baru yang memisahkan diri dari induknya menjadi bukti kecenderungan tersebut.

Benarkah setelah memisahkan diri masyarakat setempat menjadi lebih makmur? Sayangnya tidak! Yang justru terjadi adalah pemerataan korupsi, gara-gara semakin besarnya kesempatan untuk melakukan hal itu. Yang tak kalah mengerikannya adalah pembengkakan biaya pemilihan kepala daerah. Untuk pemilihan gubernur saja, pasangan calon bisa menghabiskan biaya trilyunan rupiah! Belum lagi biaya pemilihan bupati/walikota. Itu di luar biaya pemilihan umum yang biayanya tentu lebih besar lagi.

Yang membuat saya sedih, hingga saat ini rasanya belum ada tokoh yang mengritik soal otonomi daerah dan sistem pemilihan (nasional maupun daerah) yang ternyata memakan biaya yang luar biasa besar, dibanding sistem sebelumnya. Entah apakah ini karena mereka memang menikmati lahan korupsi yang semakin subur, atau mungkin karena menganggap semua yang berbau 'masa lalu' adalah semacam najis yang harus dihindari. Padahal kalau kita lihat, tidak semua kebijakan masa lalu itu buruk.

Yang paling gampang, ya soal pemilihan itu tadi. Biaya yang dikeluarkan amat sangat jauh lebih murah dibandingkan sistem yang sekarang. Kecenderungan memunculkan konflik horisontal juga lebih kecil. Lihat misalnya pilkada di Jawa Timur. Entah berapa biaya penyelenggaraan yang harus dikeluarkan pemda, karena selain pilkada dilakukan beberapa purtaran, juga ada pilkada yang harus diulang di beberapa kawasan. Belum lagi biaya yang dikeluarkan para pasangan calon gubernur. Padahal yang membiayai semua itu adalah rakyat yang taraf kehidupannya banyak yang masih berada di bawah garis kemiskinan. Kalau saja biaya pilkada tidak harus sebesar itu, mungkin sisanya bisa dipergunakan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. itu pun kalau tidak dikorup!

Rasanya memang kita harus mulai berani melakukan introspeksi. Berani mengakui kesalahan sendiri dan berani berubah. Dua hal yang luar biasa sulit dilakukan, tapi bukan berarti tidak mungkin dilakukan. Kalau misalnya otonomi daerah lebih banyak mudharatnya dibanding manfaatnya, kenapa kita tidak berani mengakui hal itu? Atau kalau misalnya pilkada itu terlalu menguras biaya, kenapa harus dipaksakan? Kuncinya adalah diawali dengan keberanian melakukan introspeksi dengan jujur, baik secara individu maupun berjamaah (kolektif) sebagai bangsa. Pertanyaan besarnya, maukah kita melakukannya?
Baca selengkapnya...


Pelawak Itu Harus Pintar

Ya, jadi pelawak itu harus pintar. Tentu saja selain lucu yang menjadi syarat utama. Pintar di sini bukan selalu berarti harus selalu jebolan sekolahan. Bukan. Pintar di sini lebih ke soal kecerdasan, dan kemauan untuk belajar.

Sudah bukan jamannya lagi pelawak hanya mengandalkan lawakan slapstick yang vulgar. Ingat, penonton semakin cerdas. Kalau dulu lawakan yang laku itu adalah sembur-semburan ludah, toyor-toyoran kepala, sekarang selera masyarakat mulai bergeser. Meminjam istilah Syahrini, harus ada 'sesuatu' dalam materi lawakan.

Artinya, seperti yang harus dilakukan di bidang apa pun, pelawak harus terus belajar. Ini akan memperkaya materi lawakan, sekaligus bisa menjadi pagar agar lawakannya tidak kebablasan. Masalahnya, sesuatu yang kita anggap lucu, bisa saja menyinggung perasaan orang lain, terutama untuk isu-isu sensitif.

Kasus yang menimpa Olga mungkin bisa dijadikan pelajaran. Ketika lawakan menyentuh isu sensitif, di sinilah diperlukan rem agar syahwat untuk mendapatkan tepuk tangan penonton dikendalikan. Sengaja atau tidak, disadari atau tidak, potensi ketersinggungan pihak lain menjadi sangat besar ketikan persoalannya menyentuh isu sensitif seperti kasus perkosaan, cacat fisik dan lain-lain.

Meski ada yang menuduh bahwa masyarakat kita over-sensitive, bagi saya kendali utama tetap berada di tangan sang komedian. Harus ada kerendahan hati untuk tidak sekedar mendapatkan tepuk tangan dengan menyakiti perasaan orang lain. Untuk kasus Olga misalnya, cukup dengan membayangkan jika Anda berada pada posisi objek lawakan. Akan seperti apa reaksi Anda?

Tentu bukan cuma Olga yang harus belajar lebih keras. Semua komedian, dan bahkan kita semua yang bukan siapa-siapa, selalu dituntut untuk terus belajar, agar kita semakin arif dalam bertindak dan berbicara. Ini sangat diperlukan demi meningkatkan toleransi kita ketika bersinggungan dengan orang lain, dan meminimalkan friksi bahkan dalam lingkup pergaulan sosial yang paling kecil sekali pun.
Baca selengkapnya...


Blog Yang Bikin Pusing

Ngintip blog orang itu menyenangkan, sebab kita bisa belajar sekaligus membandingkan. Tapi, dengan catatan: blognya memang menyenangkan untuk dikunjungi. Soalnya ada juga blog yang malah membuat kita pusing dan diam-diam berjanji untuk tidak akan pernah lagi mengunjunginya. Nah lho!
foto: detik.com
Saya sendiri punya kriteria tertentu dalam menilai sebuah blog. Berikut ini beberapa hal yang bisa bikin saya kapok mengunjungi sebuah blog:
  • Warna-warna yang terlalu mencolok (shocking) dan nggak nyambung. Percayalah, mata orang itu punya daya tahan terbatas untuk menatap warna-warna semacam itu. Hindari juga efek berkedip-kedip pada tulisan (biasanya menggunakan javascript). Ini bikin mata cepat lelah.
  • Terlalu banyak aksesoris. Mata saya gampang sepet melihat terlalu banyak aksesoris, widget, dan pernak-pernik lain yang nggak perlu. Termasuk di dalamnya adalah lagu yang auto-play. Mending kalau pas lagunya sesuai selera. Kalau tidak? Pengunjung dipaksa untuk mencari-cari tombol stop. Cara paling gampang tentu menutup browser atau mencari blog lain yang lebih beradab. Blog seperti ini pasti jadi musuh saya :)
  • Pop-up message, flying message dan sejenisnya dijamin membuat saya kesal. Biasanya, begitu muncul yang semacam ini (biasanya berisi penawaran produk, newsletter, atau sekedar pamer script baru yang bisa nyalamin pengunjung), selera saya langsung hilang dan cara terbaik adalah cepat-cepat menutup halamannya.
Nah, jika Anda punya blog yang seperti ini, mending coba diberesin lagi deh. Sebagus apa pun konten blog Anda, jika tampilannya norak dan acak-acakan, orang jadi males untuk berlama-lama di blog Anda. Asal tahu saja, yang punya kriteria seperti saya ini dijamin banyak lho, dan itu berarti Anda akan kehilangan banyak pengunjung jika tetep maksa seperti itu.
Baca selengkapnya...


Kasihan Ibu

Kasihan Ibu, kalau hanya diingat setahun sekali, pada Hari Ibu. Padahal doanya yang hebat untuk kita digumamkan dari mulutnya tanpa henti. Dalam setiap helaan nafasnya selalu terselip doa-doa untuk anaknya. Bahkan mungkin doa untuk dirinya sendiri sering terlupakan. Sebab baginya, anak-anak adalah harta terindah yang harus benar-benar dijaga. Ia rela tak makan asal anaknya bisa makan. Rela kurang tidur ketika anak-anaknya sakit. Rela tak beli baju asal anaknya bisa mendapat baju baru.

Kasihan Ibu, yang kerap dilupakan anaknya sendiri. Padahal tak pernah sedetik pun ia lupa pada anaknya. Khawatir kalau anaknya belum pulang. Cemas kalau anaknya sakit. Tak pernah lupa menyiapkan sarapan buat anak-anaknya. Selalu ingat kebiasaan-kebiasaan kecil anaknya, dan berulang-ulang diceritakannya lagi dengan bangga kepada setiap orang. Padahal kita sering malu dan kesal, lupa bahwa begitulah caranya menyayangi kita, mengingat kita.
foto: republika.co.id
Kasihan Ibu, yang lebih sering sendirian ketika kita beranjak remaja dan menemukan dunia kita sendiri. Sementara kita asyik ngerumpi dengan teman-teman, ibu harap-harap cemas menunggu telepon kita, takut kalau terjadi apa-apa dengan anaknya. Sementara anaknya nonton film rame-rame dengan teman-teman, ibu harus terbengong-bengong di depan televisi, sendirian menonton acara yang tak begitu disukainya, sambil menunggu anaknya tercinta pulang ke rumah.

Kasihan Ibu, ketika kita beranjak dewasa dan berkeluarga, ia harus menikmati kesunyian sendirian. Sementara anak yang dibanggakannya, terlalu sibuk dengan urusan keluarga barunya, sehingga tak sempat menengok bahkan meski cuma seminggu sekali. Padahal tak ada yang diharapkannya, selain sekedar merasa punya arti bagi anak-anaknya. Selain merasa tetap disayangi tetap bisa menyayangi anak-anaknya.

Kasihan kita, yang tak pernah bisa memahami apa keinginan Ibu. Padahal sederhana saja yang dinginkannya, tetap memiliki arti di mata anak-anaknya. Kita sering merasa terlalu pintar untuk mencoba memahami perasaan Ibu, padahal sesungguhnya terlalu bodoh untuk sekedar memahami diri sendiri. Kita bahkan sering tidak tahu betapa besar kasih sayang Ibu kepada kita. Kita baru menyadari itu ketika Ibu sudah pergi meninggalkan kita. Dan airmata tak pernah bisa menebus rasa sesal kita.

Maka, sayangi Ibu, pahami Ibu, muliakan Ibu, setiap hari. Senangkan hatinya, dengan apa yang kita punya, dengan apa yang kita bisa. Mulai sekarang. Tak perlu tunggu Hari Ibu berikutnya.
Baca selengkapnya...


Soal Bahasa

Bahasa menunjukkan bangsa. Klise, tapi begitulah kenyataannya. Asal muasal seseorang bisa dilihat dari bahasanya, bahkan dalam kasus tertentu juga dari dialek dan idioleknya. Meski kadang-kadang bisa meleset, tapi paling tidak ini bisa dijadikan patokan untuk menebak-nebak. Tapi yang jelas, soal bahasa ini juga bisa menjadi kendala dalam berkomunikasi, dan kadang-kadang menimbulkan kejadian-kejadian lucu.

Saya jadi ingat, ketika pertamakali datang ke Cirebon, lebih banyak bengongnya daripada ngobrolnya. Karena secara fisik tidak ada perbedaan antara orang Cirebon dan non Cirebon, seringkali orang ngajak saya ngobrol menggunakan bahasa Cirebon. Kalau sudah begini, biasanya saya cuma bisa senyum-senyum, meskipun tidak tahu pasti apakah respon seperti ini tepat atau tidak. Pernah suatu ketika saya ikutan nongkrong di warung kopi. Yang punya warung nyerocos dalam bahasa Cirebon.

Melihat respon saya cuma senyum, dia ngomong, “Ngobrol dong Mas, aja meneng bae..”

Setelah saya jelaskan bahwa saya baru dua hari di Cirebon dan nggak ngerti apa yang dia omongin, giliran dia yang tertawa.

Kali lainnya, saya ke warung, beli shampo. “Tuku shampo Bu,” kata saya dengan bahasa Cirebon yang cuma itu-itunya, ke ibu-ibu pemilik warung.

“Wah rarang Mas,” jawab si Ibu sambil ngeloyor ke pintu di belakang toko.

Saya pikir pasti dia mau ngambil shampo di rumahnya atau di gudang barangkali. Tapi kok lama ya? Beli teka-teka. Ada kira-kira setengah jam saya berdiri di situ, sambil iseng-iseng berusaha memahami alunan lagu Mabok Bae dari radio warung sebelah. Akhirnya si ibu kembali ke toko, dan menatap saya yang masih berdiri di situ dengan tatapan heran.

“Mas mau beli shampo tah?” tanyanya, kali ini dengan bahasa Indonesia tapi tetap logat Cirebon.

“Iya. Kok lama Bu? Kaki saya sampe pegel..”

“Lho.. Tadi kan saya sudah bilang nggak ada..” jawab si ibu.

Ya ampun, bilang kek dari tadi nggak ada. Tapi.. rarang itu kan artinya nggak ada..

“Ya udah, tuku udud aja Bu,” saya berusaha menutupi rasa malu. Daripada pulang dengan tangan hampa, ya sudah, beli rokok saja.

Celakanya, tatapan si Ibu malah semakin aneh seperti melihat mahluk dari planet lain.

“Emangnya Mas kalo keramas pake rokok ya?”

Idih tingeling, ibu ini lemot juga. Ya nggak mungkin lah keramas pake rokok! Maunya saya marahin saja si ibu ini, tapi saya beli wedhi. Wong nggak kenal jeh..

Catatan:
  • aja meneng bae = jangan diem aja
  • beli teka-teka = nggak muncul-muncul
  • rarang = nggak ada
  • tuku udud = beli rokok
  • idih tingeling = sialan (tergantung konteks)
  • beli wedhi = nggak berani
  • jeh = ungkapan penegasan
Baca selengkapnya...