Maaf

Maaf. Sebuah kata yang sederhana, hanya terdiri dari empat huruf. Namun makna yang ada dibaliknya jauh dari sederhana. Sebuah kata yang melibatkan emosi dan ketulusan. Begitulah seharusnya. Sebab jika hanya sekedar diucapkan, tidak disertai dengan emosi dan ketulusan, maka nilainya tidak lebih dari sekedar energi yang digunakan untuk mengucapkan atau menuliskannya.

Maaf bisa menciptakan senyum, tangis bahagia, dan kelapangan hati. Maaf bisa menyambung silaturahmi yang terputus, menghapus rasa benci, dan membuat hidup menjadi lebih indah dan menyenangkan. Maka minta maaflah pada orang-orang yang pernah kita sakiti, sengaja atau tidak. Jangan lupa, terimalah permintaan maaf dari orang yang pernah berbuat salah, yang pernah menyakiti kita.

Apakah bermaaf-maafan hanya dilakukan pada saat Lebaran? Tentu saja tidak. Idealnya, proses meminta maaf dan memaafkan ini dilakukan ssetiap ada kesempatan. Bukankah manusia adalah lahan yang subur untuk berbuat kesalahan? Pasti ada saja kesalahan yang kita lakukan dalam berkata, bertindak, dan bersikap. Mungkin saja kita tidak merasa melakukan kesalahan, tetapi siapa tahu apa yang kita lakukan atau yang kita ucapkan telah menyakiti perasaan orang lain tanpa kita sadari.

Jangan menunggu Hari Raya Idul Fitri untuk meminta maaf. Lakukan itu sesegera mungkin, selagi kita bisa. Idul Fitri adalah momentum tahunan untuk menyadarkan kita betapa mudahnya berbuat kesalahan dan betapa sulitnya menggerakkan hati untuk meminta maaf. Berjanjilah pada diri sendiri untuk membiaakan diri meminta maaf, dan juga sekaligus memaafkan orang lain, diminta ataupun tidak diminta.

Dan tentu sangat beralasan jikapada kesempatan ini saya juga meminta maaf kepada Anda dan siapa pun yang membaca tulisan ini. Siapa tahu ada kata-kata saya yang membuat Anda merasa tidak nyaman atau merasa tersakiti. Percayalah, saya tidak pernah bermaksud menyinggung atau menyakiti siapa pun. Semoga hari-hari mendatang menjadi lebih indah dan menyenangkan.

Selamat Hari Raya Idul Fitri.