Tampilkan postingan dengan label tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tulisan. Tampilkan semua postingan

Maaf

Maaf. Sebuah kata yang sederhana, hanya terdiri dari empat huruf. Namun makna yang ada dibaliknya jauh dari sederhana. Sebuah kata yang melibatkan emosi dan ketulusan. Begitulah seharusnya. Sebab jika hanya sekedar diucapkan, tidak disertai dengan emosi dan ketulusan, maka nilainya tidak lebih dari sekedar energi yang digunakan untuk mengucapkan atau menuliskannya.

Maaf bisa menciptakan senyum, tangis bahagia, dan kelapangan hati. Maaf bisa menyambung silaturahmi yang terputus, menghapus rasa benci, dan membuat hidup menjadi lebih indah dan menyenangkan. Maka minta maaflah pada orang-orang yang pernah kita sakiti, sengaja atau tidak. Jangan lupa, terimalah permintaan maaf dari orang yang pernah berbuat salah, yang pernah menyakiti kita.

Apakah bermaaf-maafan hanya dilakukan pada saat Lebaran? Tentu saja tidak. Idealnya, proses meminta maaf dan memaafkan ini dilakukan ssetiap ada kesempatan. Bukankah manusia adalah lahan yang subur untuk berbuat kesalahan? Pasti ada saja kesalahan yang kita lakukan dalam berkata, bertindak, dan bersikap. Mungkin saja kita tidak merasa melakukan kesalahan, tetapi siapa tahu apa yang kita lakukan atau yang kita ucapkan telah menyakiti perasaan orang lain tanpa kita sadari.

Jangan menunggu Hari Raya Idul Fitri untuk meminta maaf. Lakukan itu sesegera mungkin, selagi kita bisa. Idul Fitri adalah momentum tahunan untuk menyadarkan kita betapa mudahnya berbuat kesalahan dan betapa sulitnya menggerakkan hati untuk meminta maaf. Berjanjilah pada diri sendiri untuk membiaakan diri meminta maaf, dan juga sekaligus memaafkan orang lain, diminta ataupun tidak diminta.

Dan tentu sangat beralasan jikapada kesempatan ini saya juga meminta maaf kepada Anda dan siapa pun yang membaca tulisan ini. Siapa tahu ada kata-kata saya yang membuat Anda merasa tidak nyaman atau merasa tersakiti. Percayalah, saya tidak pernah bermaksud menyinggung atau menyakiti siapa pun. Semoga hari-hari mendatang menjadi lebih indah dan menyenangkan.

Selamat Hari Raya Idul Fitri.
Baca selengkapnya...


Web Player Super Praktis

Player untuk memutar musik atau video di blog banyak dibutuhkan, baik untuk sekedar hiburan, atau untuk keperluan seperti tutorial dll. Sayangnya urusan memasang player semacam ini seringkali ribet. Ada yang harus daftar dulu lah, ada yang settingnya rumit lah, malah ada yang harus bayar segala.

Jika Anda tidak suka dengan yang ribet-ribet, mau yang praktis, saya punya caranya: pakai Yahoo Web Player. Saya yang pada dasarnya tak begitu suka dengan produk-produk Yahoo, kali ini berubah pikiran. Player-nya ringan (beda dengan produk-produk Yahoo lainnya), instalasinya mudah, dan gratis.

Tampilan Yahoo Web Player saat memainkan file video.
Begitu Anda pasang player ini di blog Anda, semua link audio dan video bisa langsung diputar tanpa harus melakukan setting apa pun. Syaratnya tentu saja link tersebut harus hot-link alias direct-link. Misalnya: http://nama-web/judul-lagu.mp3 dan bukannya http://nama-web/judul-lagu.html. Video di youtube adalah contoh video yang termasuk direct-link.

Jika Anda tertarik untuk memasang web-player ini di blog/website Anda, silakan ikuti petunjuk berikut ini:
  • Masuk ke menu edit HTML, cari kode </body>
  • Copy script berikut ini dan simpan di atasnya:
<script type="text/javascript"> var YWPParams = { theme: "silver" }; </script>
<script type="text/javascript" src="http://webplayer.yahooapis.com/player.js"></script>
  • Klik save, selesai. Player super praktis ini sudah terpasang di blog/website Anda.
Dengan terpasangnya web-player ini, maka setiap direct-link audio atau video di bagian mana pun di blog/website Anda, akan otomatis bisa diputar.

Untuk mencobanya, silakan tekan tombol play di depan link berikut ini:
Tata Danamihardja - Hentikan (Aku Bosan)

Gampang kan? Lalu bagaimana cara mencari direct-link lagu-lagu gratis berformat MP3? Nanti kita bahas kalau ada waktu dan saya bisa menulisnya. Soalnya saya bukan penulis tutorial yang baik :)

Untuk sementara itu dulu yaaa...
Baca selengkapnya...


5 Kiat Jitu Mendulang Jempol

Anda main Facebook? Maniak jempol? Thumb-chaser? Ini tips ajaib mendulang jempol secara instan dan dalam waktu singkat. Simak baik-baik.
    foto: sficoils.com
  1. Apa pun jenis kelamin Anda, pasang foto perempuan cantik. Pose menantang akan lebih baik. Secara naluriah, foto perempuan lebih catchy dibanding foto pria.
  2. Sering-seringlah update status, apa saja. Bahkan sekedar satu tanda baca sekalipun (titik, koma, tanda tanya, tanda seru), akan mengundang banyak orang untuk meng-klik tombol like.
  3. Jika Anda mau sedikit meluangkan waktu, buatlah satu frasa. Apa saja. Sampah juga tak masalah. Apalagi jika Anda punya sedikit imajinasi, gunakan frasa sampah yang agak mengundang, misalnya: lagi pengen.. Dijamin, ini akan mengundang komentar bejibun, selain jempol.
  4. Rajin-rajinlah bertandang ke facebook tetangga. Ingat, tujuan Anda hanya satu, mencari tombol like. Begitu ketemu, pencet semua tombol bergambar jempol yang ada dengan penuh nafsu, jangan ada yang tersisa. Tak perlu baca apa pun. Percayalah, mereka akan merasa berutang budi dan membalas Anda dengan perlakuan yang sama.
  5. Kalau mau yang agak susah, buatlah tulisan yang berbunga-bunga, penuh dengan hamburan kata-kata nggak keruan, seperti puitis (padahal enggak). Anda pusing sendiri? Tenang saja, Anda tak perlu mengerti apa yang Anda tulis. Orang-orang dengan kapasitas intelektual di bawah Anda pasti rela menjadi pemuja fanatik Anda.
Anda menganggap saya sinis? Ah, terserah Anda. Saya cuma mengamati fakta yang tertangkap mata saya, dan kebetulan saya lagi ngaco... Don't be too serious! Hidup terlalu indah untuk diisi dengan kemarahan dan kejengkelan. Just take it easy :)
Baca selengkapnya...


Kehilangan Pilihan

foto: poskota.co.id
Hingar bingar perayaan tahun baru Masehi baru saja usai. Segala tetek bengek keriaan larut dalam kelelahan yang terbagi rata antara yang merayakan dan tidak merayakan. Kelelahan fisik bagi yang merayakan dan kelelahan mental bagi yang tidak merayakan. Semua, langsung atau tidak, dipaksa untuk terlibat dalam tradisi lokal yang mengglobal akibat peran media dan industri.

Sepuluh tahun yang lalu, saya masih bisa membedakan suasana kampung dan kota besar menjelang tanggal 1 Januari. Di kota-kota besar orang-orang terkonsentrasi di tempat-tempat tertentu dengan segala keriuhrendahannya untuk merayakan malam pergantian tahun. Kebisingan suara terompet dan deru kendaraan, gemerlap kembang api, panggung-panggung hiburan, menjadi rutinitas selebrasi tahunan. Sementara di kampung-kampung, orang masih bisa bernafas lega menikmati kedamaian, jauh dari hiruk pikuk dan kebisingan.

Namun perbedaan itu tak lagi nampak saat ini. Kampung tak lagi steril dari suara-suara terompet dan deru kendaraan di malam tahun baru. Difahami atau tidak, perayaan tahun baru Masehi menjadi mainan baru atau bahkan berhala baru yang perlahan tapi pasti menginvasi hingga ke pelosok perkampungan. Kita tak lagi punya pilihan untuk sekedar menikmati kesunyian sambil melakukan kontemplasi alakadarnya sekali pun.

Barangkali, prosesi tahunan ini diam-diam sudah menjadi semacam katarsis terhadap beban hidup masyarakat kebanyakan. Larut dalam euforia hingar bingar perayaan tahun baru Masehi mungkin menjadi semacam penghilang rasa sakit untuk beberapa saat. Lupakan sejenak kemiskinan, ketidakadilan, korupsi yang merajalela, kebobrokan moral, dan lain-lain. Selebrasi tahun baru menjadi semacam onani kolektif yang menjanjikan kegembiraan semu, meski sesaat. Setelah itu, bersiap-siap untuk kembali ke dunia nyata yang keras dan getir.

Yang jelas, saya, dan mungkin juga Anda, telah kehilangan pilihan untuk menikmati malam pergantian tahun dengan cara kita. Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un.
Baca selengkapnya...


Introspeksi Berjamaah

Menelisik ke dalam diri sendiri memang gampang diucapkan, tetapi sangat susah untuk dilakukan. Apalagi jika sudah berkaitan dengan kealpaan atau kesalahan yang kita lakukan. Ada semacam kecenderungan berupa dorongan untuk menutupi kesalahan kita dengan berbagai argumen yang kita ciptakan secara fantastis sebagai pembelaan terhadap apa yang sudah kita lakukan.

Lain halnya jika yang ditelisik adalah kesalahan orang lain. Semuanya menjadi begitu gamblang dan jelas, seolah-olah kita melihat segala sesuatunya dengan menggunakan lensa mikroskopis. Bahkan tak pernah ada dorongan untuk mencoba mencari pembelaan terhadap kesalahan orang lain. Kita merasa tidak perlu melihat persoalan dari sudut pandang yang lain.

Namun ketika orang lain berusaha mengungkapkan kesalahan kita, maka yang muncul adalah sikap reaktif dan defensif. kalau kita saja sudah tidak mau menelisik kesalahan diri sendiri, apalagi jika hal itu dilakukan oleh orang lain. Reaksi kita cuma satu: lawan!

Di tingkat individu, hal seperti itu masih bisa dianggap wajar, karena biar bagaimana pun reaksi pertama ketika mendapat 'serangan' adalah berusaha mempertahankan diri. Namun tidak berarti bahwa sikap tersebut selalu benar, karena pada kenyataannya tuduhan, serangan, atau apapun namanya, tentu dipicu oleh sesuatu yang di mata orang lain merupakan kesalahan yang perlu diluruskan. Dan jika kita mau belajar, maka seharusnya hal itu dijadikan alat untuk memperbaiki diri. Bersyukurlah bahwa kesulitan kita untuk melihat kesalahan diri sendiri sudah dibantu oleh orang yang mau menunjukkan kesalahan kita.

Celakanya, ketika kesalahan yang kita lakukan itu menyangkut kepentingan orang banyak, dorongan untuk bersikap defensif justru menjadi lebih besar. Ini terjadi karena pihak yang harus kita yakinkan bahwa kita tidak bersalah bukan lagi satu orang, melainkan banyak orang. Bisa ratusan, bisa ribuan, bisa ratusan ribu, bisa jutaan, bahkan bisa ratusan juta jika itu sudah menyangkut sebuah kebijakan negara.

***

Otonomi daerah yang diberlakukan saat ini diharapkan bisa memperbaiki kondisi yang dulu banyak dikecam gara-gara terkesan sentralistis. Maka muncullah ide otonomi daerah sebagai implementasi dari sistem desentralisasi yang diyakini (pada saat dibuat) akan menciptakan pemerataan di daerah. Namun setelah perjalanan sekian lama, ternyata otonomi daerah malah memunculkan raja-raja kecil yang haus kekuasaan. Dengan bertopengkan membela kepentingan lokal, semakin maraklah keinginan untuk memisahkan diri dalam skala domestik. Bermunculannya propinsi, kabupaten, kecamatan, bahkan desa-desa baru yang memisahkan diri dari induknya menjadi bukti kecenderungan tersebut.

Benarkah setelah memisahkan diri masyarakat setempat menjadi lebih makmur? Sayangnya tidak! Yang justru terjadi adalah pemerataan korupsi, gara-gara semakin besarnya kesempatan untuk melakukan hal itu. Yang tak kalah mengerikannya adalah pembengkakan biaya pemilihan kepala daerah. Untuk pemilihan gubernur saja, pasangan calon bisa menghabiskan biaya trilyunan rupiah! Belum lagi biaya pemilihan bupati/walikota. Itu di luar biaya pemilihan umum yang biayanya tentu lebih besar lagi.

Yang membuat saya sedih, hingga saat ini rasanya belum ada tokoh yang mengritik soal otonomi daerah dan sistem pemilihan (nasional maupun daerah) yang ternyata memakan biaya yang luar biasa besar, dibanding sistem sebelumnya. Entah apakah ini karena mereka memang menikmati lahan korupsi yang semakin subur, atau mungkin karena menganggap semua yang berbau 'masa lalu' adalah semacam najis yang harus dihindari. Padahal kalau kita lihat, tidak semua kebijakan masa lalu itu buruk.

Yang paling gampang, ya soal pemilihan itu tadi. Biaya yang dikeluarkan amat sangat jauh lebih murah dibandingkan sistem yang sekarang. Kecenderungan memunculkan konflik horisontal juga lebih kecil. Lihat misalnya pilkada di Jawa Timur. Entah berapa biaya penyelenggaraan yang harus dikeluarkan pemda, karena selain pilkada dilakukan beberapa purtaran, juga ada pilkada yang harus diulang di beberapa kawasan. Belum lagi biaya yang dikeluarkan para pasangan calon gubernur. Padahal yang membiayai semua itu adalah rakyat yang taraf kehidupannya banyak yang masih berada di bawah garis kemiskinan. Kalau saja biaya pilkada tidak harus sebesar itu, mungkin sisanya bisa dipergunakan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. itu pun kalau tidak dikorup!

Rasanya memang kita harus mulai berani melakukan introspeksi. Berani mengakui kesalahan sendiri dan berani berubah. Dua hal yang luar biasa sulit dilakukan, tapi bukan berarti tidak mungkin dilakukan. Kalau misalnya otonomi daerah lebih banyak mudharatnya dibanding manfaatnya, kenapa kita tidak berani mengakui hal itu? Atau kalau misalnya pilkada itu terlalu menguras biaya, kenapa harus dipaksakan? Kuncinya adalah diawali dengan keberanian melakukan introspeksi dengan jujur, baik secara individu maupun berjamaah (kolektif) sebagai bangsa. Pertanyaan besarnya, maukah kita melakukannya?
Baca selengkapnya...